SALAM PETANI INDONESIA

Berikut ini adalah tulisan kecil dari Sdr. Ismail, staff SUNSPIRIT yang mengikuti pelatihan Civic Education and Future Indonesian Leaders (CEFIL) selama bulan APRIL 2008 di Jogjakarta. “Selama satu bulan ini saya diberi banyak pemahaman baru tentang ke-Indonesia-an. Dan untuk memahami ke-Indonesia-an secara jelas, kita harus memahami dulu konteks sosial masyarakatnya” katanya.
Nah…tulisan ini merupakan sepenggal kisah kecil dari pengalaman Ismail membaca Indonesia. Sebuah ke-Indonesia-an yang diteropong dari kehidupan pertanian di Dusun Kalirase Desa Sidomulyo Kec. Sleman, Kab. Sleman, Daerah Istimewa Yogyakarta.

Pertanian di dusun Kalirase Desa Sidomulyo Kec. Sleman Kab. Sleman Daerah Istimewa Yogyakarta bersahabat dengan alam. Ini satu contoh masyarakat desa yang memperhatikan faktor kesehatan. Mereka memanfaatkan sumber daya lokal seperti kotoran sapi dan kambing serta air seninya sebagai pengganti pupuk dan obat kimiawi.

Penduduk dusun Kalirase sebagian besar petani, berkebun salak dan peternak sapi. Mereka menyadari bahwa penggunaan pupuk serta pestisida non organik berbahaya dan berakibat timbulnya berbagai macam penyakit. Parjono (44) selaku kepala dusun sekaligus ketua kelompok tani menyampaikan, hingga saat ini masyarakat lebih banyak menggunakan pupuk organik sebagai pengganti pupuk non organik.

Saya sependapat dengan masyarakat Kalirase, karena ini manyangkut keberlangsungan konservasi sumber daya alam hayati dan ekosistemnya, baik saat ini maupun di masa mendatang. Menjaga lingkungan dan ekosistem merupakan tanggung jawab masyarakat dan pemerintah. Sesuai UU Nomor 5 tahun 1990 tentang konservasi sumber daya alam hayati dan ekosistemnya pada Bab I pasal 4, bahwa “Konservasi sumber daya alam hayati dan ekosistemnya merupakan tanggung jawab dan kewajiban Pemerintah serta masyarakat.”

Pada tahun 1970-an, petani dusun Kalirase menanami lahan pertanian dengan jenis padi lokal, antara lain: gogo, menthik dan pandan wangi, serta tidak menggunakan jenis pestisida non organik. Sistem ini menghasilkan jenis padi berkualitas dan minimnya masyarakat yang terjangkit penyakit berbahaya.

Sistem ini kemudian berubah saat pemerintah mengeluarkan kebijakan swasembada pangan pada tahun 1993, di mana bibit, pupuk dan obat-obatan tidak berpihak pada masyarakat kecil. Pemerintah yang seharusnya menggalakkan pupuk organik justru bertindak sebaliknya. Permasalahan ini semakin bertambah ketika pemerintah menggalakkan pembagian benih melalui Dinas Pertanian.

Pada tahun 1995 ada keinginan dari beberapa petani untuk kembali menggunakan jenis pupuk organik. Selama lima tahun, pertanian organik perlahan-lahan hampir menggantikan pertanian kimiawi dan membuat perekonomian masyarakat Kalirase membaik. Hasil pertanian meningkat dan harga jualnya pun tinggi. Di samping itu, penggunaan pupuk organik juga menekan biaya yang mereka kaluarkan.

Pertanian organik kemudian mereka galakkan kembali pada tahun 1998. Inilah yang memotori terbentuknya kelompok tani di dusun Kalirase. Jumlah anggota kelompok tani pun awalnya hanya berjumlah 13 orang yang terdiri dari masyarakat dusun Kalirase dan Sidomulyo. Karena keberhasilan menekan biaya produksi tersebut, banyak petani yang kemudian tertarik dan bergabung dengan kelompok tani.

Pada tahun 2000, petani Kalirase mulai sadar bahwa ketergantungan terhadap pupuk kimia adalah salah satu penyebab rusaknya kesuburan tanah dan menambah tingginya biaya produksi. Terbukti setiap tahun pupuk yang mereka perlukan meningkat terus, baik jumlah maupun jenisnya. Terlebih lagi harga pupuk semakin melambung dari tahun ke tahun.

Setelah kelompok tani dan masyarakat setempat menggalakkan bibit lokal dan pupuk organik, hama wereng dan penyakit lainnya relatif berkurang. Lain halnya ketika mereka menggunakan pestisida dan obat-obat hama kimiawi.

Bahaya yang ditimbulkan pestisida dan pupuk non organik pun semakin kompleks, antara lain kanker, paru-paru, penyakit kulit dan sebagainya. Alasan utama mereka sederhana: menjaga kesuburan tanah. Sayangnya kesadaran tersebut masih belum sepenuhnya mendapat dukungan masyarakat desa lain dan perhatian serius pemerintah melaui Dinas Pertanian.

Selain pertanian, usaha peternakan juga diminati oleh masyarakat dusun Kalirase. Perpaduan sistem pertanian dan peternakan adalah dua kegiatan ekonomi yang saling berkesinambungan. Keduanya menguntungkan dari segi materi. Bertani adalah pekerjaan pokok yang menghasilkan padi, sementara dari berternak mereka memperoleh hasil penjualan hewan dan daging. Selain itu kotoran hewan dapat dimanfaatkan sebagai pupuk di lahan pertanian dan perkebunan guna mengurangi biaya produksi. Yang tidak kalah pentingnya dari kegiatan mereka adalah kepedulian terhadap lingkungan yang terus tercemari oleh zat-zat berbahaya dari pupuk dan pestisida non organik.

Dari 73 anggota kelompok tani saat ini, 34 orang bergabung dalam kelompok ternak sapi, di mana kelompok ternak merupakan bagian dari kelompok tani. Hewan-hewan tersebut mereka kumpulkan dalam satu lokasi, sehingga memudahkan dalam pengawasan dan pengumpulan kotoran yang kemudian mereka olah menjadi kompos.

Dibandingkan jumlah petani di negeri ini, kiranya masih sedikit masyarakat kita yang mau menggunakan pupuk organik sebagai penyubur tanaman karena berbagai alasan. Terlalu rumit, bau, hasilnya tidak langsung kelihatan, dan sebagainya. Padahal pupuk organik sebenarnya mudah didapat tanpa biaya tambahan. Masyarakat Kalirase, contohnya.

Bila dilihat dari keberhasilan masyarakat dalam mengelola pertanian organik, hendaknya pemerintah ikut mendukung program tersebut melalui beberapa cara: Pertama, penyediaan alat pengolah kotoran dan air seni hewan berupa alat suling dan lain-lain; Kedua, penyuluhan penggunaan pupuk organik dan bahaya yang ditimbulkan pupuk kimiawi satu bulan sekali kepada semua anggota kelompok tani; Ketiga, menyediakan dan memperluas jaringan pemasaran hasil pertanian organik; Keempat, memberikan fasilitas yang memadai kepada petani untuk menjual hasil ke kota-kota besar di Indonesia.

Indahnya bumi pertiwi ini bila semua petani di daerah-daerah lain melakukan hal yang serupa, seperti masyarakat di Kalirase. Kita berharap bahwa kebijakan pemerintah mengurangi pupuk non organik di kemudian hari semakin manyadarkan kita bahwa inilah yang seharusnya kita lakukan. Salam Petani Indonesia. (CEFIL XXI

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: