BUDAYA ACEH BUDAYA DAMAI

CATATAN DARI FESTIVAL BUDAYA ACEH UNTUK PERDAMAIAN II, Desember 2007

Membangun perdamaian tidak cukup hanya dengan menandatangani kesepakatan , membubarkan pasukan, mengembalikan para prajurit ke barak atau menertibkan senjata (ilegal maupun legal).

Membangun perdamaian sejati mesti sampai pada menciptakan budaya damai. Budaya damai itu menyangkut pola pikir, cara bersikap, perilaku, karakter, mentalitas, keyakinan, pola hubungan dengan pihak lain, tata kehidupan bersama yang ditandai dengan nilai-nilai luhur seperti keadilan, kesetaraan, demokrasi, dan solidaritas. Budaya damai itu menyangkut bagaimana kita menata suatu kehidupan bermasyarakat baru yang bebas dari kekerasan, penindasan, monopoli, dan peminggiran. Singkatnya, budaya damai itu adalah damai yang nyata dalam kehidupan sehari-hari.

Bagaimana cara mengembangkan budaya damai dalam konteks Aceh yang sudah lama dilanda konflik? Ada banyak cara. Salah satunya yang dilakukan oleh masyarakat 20 desa di Bubon dan Woyla, Kabupaten Aceh Barat, bulan Desember 2007 lalu. Mereka menghidupkan kembali kegiatan seni budaya di komunitas mereka, melakukan refleksi atas kenyataan sosial yang ada, menciptakan syair berisi pesan damai, membuat drama, melatih tari tradisional, dan akhirnya berpartisipasi dalam lomba seni-budaya antara gampong dalam kegiatan festival budaya perdamaian.

Kegiatan Festival Budaya Perdamaian ini terbukti efektif mempertemukan berbagai kelompok dalam desa dan mendorong mereka untuk bekerja sama membangkitkan kembali seni budaya yang terabaikan selama konflik. Selain itu kegiatan lomba antar gampong menjadi ajang perjumpaan antar komunitas. Di sini mereka juga belajar untuk bersaing secara sportif.

Yang menarik, para penampil terbaik festival tampil di hadapan publik di kota Meulaboh. Dalam penampilan yang penuh dengan pesan perdamaian ini, masyarakat yang seringkali menjadi pihak yang “diajar” justru menjadi tokoh sentral yang memberikan syiar perdamaian. Pesan mereka begitu bening di tengah hiruk-pikuk Aceh sekarang ini, “Wahai para pemimpin, hentikan konflik! Mari bekerja untuk keadilan yang nyata.” Itulah inti dari budaya damai.**

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: