Damai=Menyelesaikan Konflik

Kesepakatan Damai di Helsinki yang diteguhkan dengan Undang-Undang Pemerintahan Aceh (UUPA), telah berhasil membawa Aceh kepada awal yang baru, yakni Aceh yang damai, sejahtera, dan bermartabat.

Namun demikian, masih ada banyak tantangan yang menghadang. Di level atas, tantangan itu antara lain tampak dalam gejala kekerasan yang meningkat, kesalingcurigaan/rendahnya rasa saling percaya antara berbagai pihak, perpecahan para pemimpin, ketidakjelasan reintegrasi sosial, penanganan korban konflik yang tidak jelas, tidak menentunya proses rekonsiliasi , dan masih kaburnya penyelesaian untuk persoalan sosial, ekonomi, politik, dan hak asasi manusia.

Sementara itu, di level masyarakat, ketegangan masih tinggi terkait dengan perebutan sumber daya, dendam dan kecurigaan lama, perpecahan karena berbagai sebab, mandeknya proses demokrasi gampong, adanya mekanisme peminggiran/ketidakadilan , serta rentannya masyarakat terhadap berbagai tindak kekerasan.

Dikhawatirkan baik pemimpin maupun anggota masyarakat kita tidak mampu mengelola berbagai persoalan dan konflik yang ada demi terciptanya perdamaian yang permanen.

Untuk meningkatkan kesadaran, pengetahuan serta keterampilan dalam menghadapi konflik dan menciptakan perdamaian , SUSNPIRIT for justice and peace dengan dukungan Caritas Germany menyelenggarakan Pelatihan Transformasi Konflik dan Perdamaian Berkelanjutan bagi para tokoh masyarakat dan penggerak perdamaian di Aceh Barat. Pelatihan yang berlangsung tanggal 20-23 November 2007 itu diikuti oleh 34 orang peserta dari unsur pemimpin komunitas, perwakilan kelompok perempuan, pemerintah kecamatan, dan perwakilan Komite Peralihan Aceh .

Lewat permainan dinamika kelompok, permainan peran dan diskusi, para peserta diajak oleh fasilitator untuk merefleskikan pengalaman dan sikap mereka ketika berhadapan dengan konflik. Mereka juga menyegarkan kearifan dan pengetahuan, serta sikap terkait dengan menciptakan perdamaian dengan menyelesaikan konflik yang ada dengan jalan damai.

Para peserta mengakui bahwa pelatihan ini amat berguna bagi mereka. Berkat pelatihan ini mereka dapat melakukan analisa sederhana terhadap konflik, dan memahami cara menyelesaikan persoalan mereka dengan jalan damai.

Sebagai rencana tindak lanjut, mereka mengharapkan pertemuan rutin untuk meningkatkan pengetahuan dan keterampilan, serta sebagai forum komunikasi antara sesama penggerak perdamaian.

Mereka juga mengharapkan SUNSPIRIT melanjutkan proses perdamaian ini dengan mengadakan workshop perdamaian di level desa/komunitas. Dengan cara itu setiap komunitas dibantu untuk menyelesaikan konflik nyata yang mereka hadapi dengan jalan damai.

Bagaimanapun, perdamaian itu bukan hanya urusan Pemerintah, TNI atau mantan GAM. Perdamaian adalah tanggung jawab kita semua. (GG)

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: