Perempuan Aceh Memberdayakan Diri

Masalah “kesetaraan gender” menjadi isu yang hangat dibicarakan di Aceh akhir-akhir ini. Ada pihak yang dengan terang-terangan menolaknya. Kelompok yang kontra ini bahkan meminta pemerintah untuk melarang paham atau gerakan kesetaraan gender di Aceh.

Di pihak lain, tidak sedikit orang yang mendukung gerakan kesetaraan gender. Kelompok pro ini berpegang pada keyakinan bahwa perempuan dan laki-laki sama derajatnya, walaupun mengemban peran sosial yang berbeda.

Perbedaan pendapat seperti ini adalah hal yang biasa dalam masyarakat demokratis. Yang harus kita usahakan adalah mencari titik temu, yaitu hal-hal umum yang disetujui oleh semua pihak.

Salah satu hal yang diterima oleh semua pihak adalah bahwa perempuan Aceh harus meningkatkan keberdayaan diri mereka. Bukan saatnya lagi perempuan menjadi kolompok yang diam, pasif, bodoh, tidak memiliki keterampilan, tidak terlibat dalam kehidupan bermasyarakat, tidak berpartisipasi dalam kehidupan politik. Sebaliknya, kita semua sepakat bahwa perempuan Aceh harus cerdas dan terampil, berani dan bertanggung jawab dalam kehidupan keluarga dan bermasyarakat, serta turut serta menyumbangkan potensi diri mereka dalam rangka membangun Aceh baru, Aceh yang adil, damai dan sejahtera.

Keberdayaan Ekonomi

Dalam semangat memberdayakan diri itulah, perempuan dari Kecamatan Bubon dan Woyla, Aceh Barat, aktif dalam berbagai kegiatan untuk meningkatkan keberdayaan ekonomi mereka. Kepada LSM SUNSPIRIT yang telah mendampingi desa mereka sejak tahun 2005 lalu, mereka mengusulkan berbagai pelatihan dan kegiatan industri kecil skala rumah tangga.

Pada awal September lalu, 236 perempuan dari 10 desa di kecamatan Bubon dan Woyla mengikuti pelatihan keterampilan selama 10 hari di Meulaboh. Tidak tanggung-tanggung, tiga instruktur profesional dari Bogor dan Bandung mendampingi mereka dalam pelatihan pengolahan berbagai jenis makanan dan kerajinan menyulam.

Mereka belajar bagaimana mengolah bahan yang ada di sekitar untuk menjadi komoditi bernilai ekonomi seperti keripik dari aneka jenis buah, aneka dodol, abon daging dan ikan, aneka jenis sirup, pengolahan jahe, serta pengolahan makanan seperti bakso dan manisan terong.

Untuk mendukung peningkatan keterampilan dan pengalaman, tiga orang wakil dari kelompok perempuan dikirim ke Jakarta dan Jawa Barat untuk pelatihan dan studi banding ke pusat produksi industri kecil di sana (baca Belajar Jauh Sampai Ke Bogor, halaman 5)

Tidak hanya berhenti di situ. Setelah mengikuti pelatihan, mereka juga menggalakkan kegiatan ekonomi mandiri. Perempuan yang mau melakukan usaha di setiap gampong membentuk kelompok usaha dan mengumpulkan modal sendiri. SUNSPIRIT sebagai lembaga pendamping kemudian menambahkan modal dan fasilitas usaha sesuai keperluan.

Dengan modal kecil itu, perempuan di 10 desa memulai usaha mereka mulai dari membuat keripik buah, pengolahan jahe, bakso, dodol, manisan, menyulam jilbab, dll.

Pada tahun 2008, kelompok yang terbukti mampu mengelola modal kecil akan mendapatkan modal usaha lebih besar dan pendampingan.

Mengingat ini merupkan usaha pemberdayaan jangka panjang, SUNSPIRIT selalu mendorong para anggota untuk menjauhi mentalitas mendapat bantuan jangka pendek yang kemudian hilang tak berbekas. Sebaliknya, mereka diharapkan tekun untuk mengelola usaha mereka. Hanya kelompok yang serius yang berhak mendapat pendampingan lebih lanjut

Keberdayaan Sosial

Usaha ekonomi saja tentu tidak cukup untuk meningkatkan keberdayaan perempuan. Untuk itu,

SUNSPIRIT mendorong pertemuan rutin perempuan, baik dalam gampong maupun antar gampong. Dalam pertemuan-pertemuan tersebut, perempuan saling bertukar pikiran dan berdiskusi tentang berbagai hal untuk memperluas pengetahuan mereka. Sepanjang tahun 2007, mereka sudah membahas masalah kesehatan keluarga, pendidikan anak, masalah gizi, masalah partisipasi perempuan dalam kehidupan komunitas, dan masalah perdamaian.

Selain itu, para perempuan di semua desa juga didorong untuk terlibat dalam berbagai kegiatan lain bersama dengan tokoh-tokoh komunitas, seperti pelatihan perdamaian dan transformasi konflik, musyawarah pembangunan desa, pelatihan pemimpin desa, serta kegiatan budaya untuk perdamaian.

Lewat berbagai kegiatan tersebut, perempuan dapat meningkatkan wawasan serta ikut berpartisipasi dalam kehidupan bersama. Lewat partisipasi itulah perempuan dapat memberikan sumbangan positif bagi pembangunan masyarakat.

Terserah Perempuan

Orang boleh saja berdebat apakah “kesetaraan gender” itu baik atau buruk untuk Aceh. Yang jelas kalau perempuan Aceh mau memberdayakan diri mereka di segala bidang, tidak ada yang bisa menghalangi.

Pemberdayaan diri itu kunci menuju perempuan Aceh yang cerdas, terampil, aktif, dan mandiri.

Sekarang ini banyak orang fasih berbicara tentang perempuan dan mengatur bagaimana perempuan harus diatur. Sudah saatnya kita membiarkan perempuan bicara dan menunjukkan kepada dunia bagaimana mereka mengatur diri dan ikut mengatur dunia.

Mungkin ada orang yang tidak senang melihat perempuan Aceh berdaya. Namun bagaimanapun juga, kita semua yakin bahwa Aceh baru, Aceh yang lebih adil dan damai adalah milik semua orang, laki-laki maupun perempuan. (Cypri JPD)

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: