MEMBONGKAR PAGAR DENGAN RASA

 

Seorang kakek yang telah memegang amanah melestarikan warisan sebuah alat musik rapai Cebrek yang berusia dua abad dari tujuh lapis leluhur dilanda kecemasan akan punahnya tradisi beserta seluruh nilai luhurnya di tengah sebuah zaman krisis yang penuh dengan prahara.

         Pada suatu senja yang khusuk, disaksikan keheningan alam dan burung-burung yang bertengger di atas pagar kampung, ia menurunkan amanah tersebut kepada cucunya. Bagaimana sang cucu, generasi penerus menjalankan amanah dan menghidupkan nilai-nilai tradisi-tradisi itu? Berhasilkah mereka pulih setelah masa-masa sulit? Adakah mereka melakukan perubahan gaya, transformasi diri, demi menciptakan masa depan? Bagaimana mereka menyiasati perbedaan dan mengisi ruang diniamika hidup bersama? Adakah harapan bagi kehidupan yang lebih baik bagi kesejahteraan, keadilan dan perdamaian?

Kompleksitas masalah yang melanda Aceh saat ini dengan sengaja digambarkan dan dimaknai SHE LAGE. Melalui dan dalam kaca mata SHE LAGEE kompleksitas persoalan itu dapat diselesaikan dengan proses perubahan dalam segala bidang kehidupan. SHE LAGEE menawarkan pergeseran makna dari konflik ke perdamaian dengan mengangkat sejarah masa lalu, membedahnya dan dimaknainya secara baru.

Ketika sekelompok orang sedang duduk dan datang orang/sekelompok orang lain tercipta banyak dinamika yang mungkin terjadi. Pertama, orang dalam kelompok geser/bergeser/menggeser untuk memberi tempat sehingga menjadi satu; kedua, mereka tetap menjadi kelompok yang terpisah, terasing satu sama lain; atau ketiga, mereka saling menggeser, bersaing saling berebut tempat, yang satu menginvasi yang lain, maka terjadilah ketegangan.

SHE dalam bahasa Aceh menggambarkan dinamika di mana orang menggeser untuk memberi tempat bagi yang lain agar sama-sama mendapatkan tempat dalam suatu kelompok. Geser-menggeser itu menciptakan harmoni dan mencegah gesekan atau konflik. Kosa kata SHE ini dalam jagat kebahasaan, sulit dicari padanan kata yang tepat dalam bahasa Indonesia atau bahasa Inggris.

Dalam kamus bahasa Aceh makna menggeser tertulis SEU, namun dilafalkan SHE. Dengan sengaja memakai kata SHE agar pembaca/pendengar mengasosiasikannya dengan SHE dalam bahasa Inggris (orang ketiga). Jadi secara etimologis pilihan kata SHE adalah juga sebuah penawaran baru tanpa membuang yang lama sebagai makna sebenarnya.

Sementara itu LAGEE berarti ragam dan gaya, perilaku, style atau lagak. Ada beragam gaya manusia, beragam pula gaya geser-menggesernya. SHE LAGEE menawarkan gaya menggeser untuk memberi ruang bagi harmoni. Dalam arti sosial SHE LAGEE merupakan kesediaan untuk sama-sama berubah memberikan tempat bagi perdamian. Artinya perdamaian harus diberi ruang yang penuh untuk proses pemulihan Aceh. Setiap pagar masalah, tembok dan jurang konflik harus dibongkar.

Menarik untuk dijelaskan dalam SHE LAGEE adalah simbol ’pagar’. Pertama-tama sebagai latar pertunjukkan pagar menghadirkan suasana gampong (kampung) dan merupakan setting komunitas yang menjadi locus kisah SHE LAGEE.

Pagar  berfungsi sebagai pelindung. Penari perempuan yang menari di pagar dengan gerak gemulai lembut menyimbolkan betapa perempuan juga menempatkan dirinya pada dua dunia: dunia rumah tangga dan dunia komunitas, ranah privat dan ranah publik. Dalam situasi konflik, perempuan seringkali tampil sebagai pelintas batas, menembusi sekat-sekat, untuk merajut kembali relasi yang terkoyak. Pagar dan penari juga memberikan penekanan bahwa perempuan adalah perlindungan, benteng terakhir, penjaga ruang kesejukan dan damai.

Dalam artian yang lain, pagar dalam kaca mata keseharian kita adalah pembatas, sekat dan atau pemisah. Pagar memisahkan kita dari rumah tetangga, dari kebun tetangga, dan dari tanah tetangga. Dalam tataran konsep atau pandangan ’pagar’ mengisolasi diri atau kelompok  dalam bentuk ideologi dan atau kepentingan. ’Pagar’ membentuk sal-sal yang sulit ditembus, dimasuki apalagi diserobot gagasan-gagasan baru walaupun bisa dimaknai saripatinya. ’Pagar’ mengentalkan ide jadi ego, dan ego jadi ukuran pembenaran.

Dalam dan melalui SHE LAGEE pagar itu dibongkar. Proses pembongkaran yang ditawarkan SHE LAGEE bukan perang, bukan perdebatan, tetapi kelembutan rasa. Kokohnya tembok pembantas, kuatnya pagar pemisah hanya dapat diterobos dengan rasa. Rasa itu diam, sediam gemuai lembut perempuan; rasa itu senyap, sesenyap kepak sayap burung, juga sunyi sesunyi senja.

Tetapi diam, sunyi dan senyapnya menyapa hingga jauh ke sudut dada dan nalar manusia. Sapaannya menyentuh kesadaran manusia untuk mengambil sikap, bereaksi, bergerak, bergeser, bahkan memberi ruang pada sesuatu yang baru yakni sebuah makna akan harmoni dan kedamaian. Inilah alternatif yang mesti diterima manusia untuk perubahan, sesuatu yang tidak ditawar-tawar lagi.

Kendatipun dalam arti di atas pagar adalah masalah, pembatas dan jurang pemisah,  bukan berarti harus dibuang dan diabaikan. Dalam kehidupan kita pagar masalah merupakan bagian yang integral. Lantaran itu pagar itu harus dipikul, digotong dengan jiwa besar. Pagar dalam artian ini ditafsirkan sebagai sesuatu yang positif, karena mampu mengajarkan tentang perubahan yang menempatkan kita pada posisi yang benar. Jika pagar adalah konflik atau masalah, maka melaluinya kita diajarkan untuk bagaimana membangun perdamaian. Jika pagar adalah masalah, tidak seharusnya kita membuangnya, namun sebaliknya menjadikannya sebagai pelajaran, untuk perubahan. (Red/GG)

 

2 Comments (+add yours?)

  1. Trackback: Liputan She Lagee « Another Sound of Music
  2. Martha
    Aug 20, 2008 @ 16:51:19

    Good performance. Congrat!

    Reply

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: