BUILDING SUSTAINABLE PEACE THROUGH COMMUNITY ART ACTIVITIES

 A speech by Tamara Soukotta from SUNSPIRIT for justice and peace for the opening of  “She Lagee” Peace Performance  in Graha Bahkti Budaya Jakarta, on July 8 and 9, 2008.

 

shelagee

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

Ladies and gentlemen, peace supporters and art lovers,

Three years working for peacebuilding together with grass root communities in Aceh Barat, give us, SUNSPIRIT FOR JUSTICE AND PEACE, a preveledged opportunity to become witness and all at once active contributor for change in Aceh; change from disaster towards new life, from conflict to peace, from the communities who lost their identity and torn by the conflict towards the dynamic communities in all aspect of life.

Together with the communities, we have devoted part of our initiatives to revitalize the art and cultural activities in the conflict affected communities. We organized two Aceh Cultural Festivals for Peace (in 2006 and 2007). All these initiatives revitalize the dynamic of the community with togetherness, solidarity, and new spirit to left the trauma behind and work for new peaceful and prosperous life.

Simple initiatives in the beginning had grown into an outstanding program. With the support from various parties, and especially commitment from the communities themselves, we now have Komunitas Seni Damee Meulaboh (KSDM)- a group of people from communities we assisted devoted themselves for peace promotion. She Lagee is one of their work.

So, for us She Lagee is a shift, transformation, from conflict—all kinds of conflict—towards peace—a genuine peace. Peace here is a peace that gives every body opportunity to express themselves, free to have aims and dreams, free to actualize themselves, open to any change brought by the progress, without abandon the roots of their culture from the ancestors.

She Lagee is also a voice from the grass root communities, raised to greet their leaders: “Here we are who once victimized in conflict and now struggle to rebuild our lives and maintain the peace. Change, transform your style in leading this country to prevent conflicts. Here we are, the communities who sustain our adat and culture. Let us build the peace culture in this country.”

There is nothing that cannot be changes except the change itself. So, we cannot refuse the change. But it is also naïf if we understand change with abandon the tradition and accept everything from outside. It is wise to open ourselves to new things and at the same time deepen our root to our own legacy of tradition.

She Lagee itself is inspired by living experience of Acehnese Communities, especially in west part of Aceh. We learned from what wee see and experience: how people move, shift, fight for their own interests. Even She Lagee is also eye witness how the artist and peace activist have to move, not to ruin or overthrow, but to get space in the heart and though of the leaders.

All parties involved in She Lagee worked wholeheartedly and with extra-ordinary commitment for peace. I would like to appreciate the contribution of all artists from every community, the community members and the leaders in the communities assisted by SUNSPIRIT, the young Aceh cultural activist/Artist in Jakarta, and the whole teamwork both from SUNSPIRIT and volunteers involved, and the donors.

Ladies and gentlemen, please welcome She Lagee, an offer from the heart and life experience of grass root communities of Aceh. Let us open our heart, give space for She Lagee. Let She Lagee told us a story, share experience regarding how in this life we often shift or move each other for the sake of our own ego, and how beautiful the life is if we give space for peace to grow.

Enjoy the play. Peace!

Tamara Soukotta

SUNSPIRIT for justice and peace

 

 

 

 

Sambutan SUNSPIRIT untuk Pementasan SHE LAGEE di Graha Bhakti Budaya, 8-9 Juli 2008

 

Bapak, Ibu, Saudara dan Saudari Pencinta Perdamaian dan Penikmat Seni,

Selama 3 tahun SUNSPIRIT bekerja untuk pengembangan perdamaian (peacebuilding) bersama masyarakat dalam wilayah Aceh Barat, Kami telah menyaksikan berbagai proses perubahan yang terjadi Aceh. Kami bersyukur bahwa kami berkesempatan ikut serta menjadi saksi dan sekaligus pelaku perubahan, dari kehancuran yang disebabkan bencana gempa dan tsunami menuju masyarakat yang mulai hidup lagi, dari konflik menuju perdamaian, dari komunitas yang hilang identitas dan terpecah-belah menjadi komunitas yang kembali dinamis dalam berbagai aspek kehidupannya.

Bersama masyarakat, Kami telah berusaha mengidupkan kembali kegiatan berkesenian di setiap komunitas yang memudar selama konflik dan menyelenggarakan Festival Budaya Aceh untuk Perdamaian selama dua tahun berturut-turut (2006 dan 2007). Kegiatan-kegiatan ini telah membangkitkan dinamika kehidupan masyarakat gampong yang diisi dengan kebersamaan, solidaritas, dan semangat meninggalkan trauma masa lalu untuk memulai suatu kehidupan yang damai.

Inisiatif sederhana yang kami mulai tiga tahun lalu ternyata kemudian melahirkan Komunitas Seni Damee Meulaboh (KSDM) dengan karya She Lagee yang kami persembahkan ini.

Maka She Lagee bagi kami adalah bergeser dari konflik –berbagai macam konflik- menuju damai –perdamaian yang sesungguhnya. Damai di sini adalah damai yang memungkinkan setiap orang mengekspresikan dirinya, bebas mempunyai tujuan dan cita-cita, bebas menjadi dirinya sendiri, membuka diri terhadap perubahan yang dibawa oleh zaman, tanpa meninggalkan akar budaya warisan leluhurnya.

She Lagee juga adalah suara masyarakat akar rumput yang ingin menyapa para pemimpinnya: “Inilah Kami, yang dulu pernah dikorbankan oleh konflik dan sekarang berusaha membangun serta memelihara perdamaian. Rubahlah gaya geser-menggeser di antara Kalian agar tidak lagi terjadi konflik. Inilah Kami, masyarakat sederhana yang masih setia memegang adat budaya. Mari bersama membangun budaya damai.”

Tidak ada yang tidak berubah selain perubahan itu sendiri. Maka memang tidak mungkin manusia menolak perubahan. Tapi juga sungguh naïf bila perubahan dimaknai sebagai meninggalkan yang lama dan menerima yang baru, meninggalkan tradisi sendiri dan menerima tradisi luar. Alangkah bijak bila manusia mampu membuka diri terhadap hal baru dan di saat yang sama tetap berakar pada tradisi luhur budayanya.

She Lagee sendiri adalah sebuah karya yang terinspirasi dari pengalaman kehidupan masyarakat Aceh., Kami belajar dari apa yang Kami lihat dan Kami alami sendiri: betapa sering manusia saling menggeser demi kepentingan masing-masing. Bahkan She Lagee juga telah menjadi saksi bagaimana seniman gampong harus menggeser, bukan untuk menjatuhkan atau menyingkirkan, tapi untuk memperjuangkan tempat dalam hati dan pikiran pemimpinnya.

Semua pihak yang terlibat dalam karya She Lagee telah bekerja dengan kesungguhan hati dan komitmen yang luar biasa bagi perdamaian. Apresiasi yang setinggi-tingginya kami berikan kepada seluruh seniman yang terlibat, para pemimpin dan anggota masyarakat di kampung-kampung dampigan SUNSPIRIT, kawan-kawan seniman muda Aceh di Jakarta, dan seluruh tim kerja yang melahirkan She Lagee sebagai sebuah karya untuk perdamaian.

Bapak, Ibu, Saudara, Saudari sekalian, terimalah persembahan She Lagee, persembahan yang lahir dari hati sebagai buah dari suatu pengalaman hidup. Mari membuka hati, memberi sedikit ruang bagi She Lagee. Biarlah She Lagee bercerita, berbagi pengalaman tentang betapa dalam kehidupan ini kita sering saling menggeser demi menuruti ego masing-masing, dan betapa indah hidup ini bila semua kita saling memberi tempat dan membuka ruang agar damai dapat berkembang.

Selamat Menyaksikan, dan Salam Damai!

Tamara Soukotta

SUNSPIRIT for justice and peace

 

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: