ORANGUTAN, PRIMATA PERMATA NUSANTARA

Indonesia terkenal sebagai salah satu negara yang memiliki keanekaragaman hayati tertinggi ketiga di dunia setelah Brasil dan Kolombia. Berbagai jenis tumbuhan dan hewan endemik ditemukan di berbagai pulau di negeri ini baik di darat maupun di air (laut dan air tawar). Tidak hanya keragaman jenis tumbuhan dan hewan, negara ini juga kaya akan keragaman ekosistem, bentang alam, dan budaya. Komodo di NTT, burung cendrawasih di Papua, jalak bali di Bali, maleo di Sulawesi, badak di Ujung Kulon, harimau di Jawa dan Sumatra adalah beberapa contoh satwa liar endemik yang menghuni berbagai ekosistem di negeri ini. Selain itu, salah satu binatang yang juga menjadi ikon adalah orangutan.

Menyebut orangutan mengarahkan ingatan orang pada Indonesia, khususnya Sumatra dan Kalimantan yang menjadi wilayah penyebaran satwa ini. Orangutan tidak ditemukan di wilayah mana pun di dunia ini, kecuali di kedua pulau tersebut. Oleh karena itu, pemerintah menetapkan dua taman nasional yang khusus berfungsi sebagai habitat hewan ini, yaitu Taman Nasional Gunung Leuser di Sumatra bagian utara dan Taman Nasional Tanjung Puting di Kalimantan Tengah.

Orangutan merupakan satu-satunya primata terbesar di Asia. Ukuran tubuhnya (dewasa) mencapai 137 cm dengan berat sekitar 85 kg. Ukuran tubuh orangutan betina lebih kecil dibanding yang jantan. Sesuai dengan daerah penyebarannya, ada dua jenis orangutan, yaitu Orangutan Sumatra (Pongo abelii) dan Orangutan Borneo (Pongo pygmaeus). Sepintas, kedua jenis satwa ini terlihat tidak berbeda, tetapi jika diteliti lebih jauh, keduanya memiliki perbedaan yang cukup jelas. Dari kenampakan luar, orangutan borneo berwarna merah-coklat terang, sementara orangutan sumatra berwarna merah-coklat gelap. Para peneliti binatang ini menjelaskan bahwa selain perbedaan karakter morfologi, genetika kedua binatang ini juga berbeda dengan jelas.

Dibandingkan dengan primata lain seperti berbagai jenis monyet yang hidupnya berkelompok, orangutan merupakan binatang soliter (hidup sendiri). Hanya induk dengan anaknya yang berumur kurang dari tiga tahun yang tinggal bersama, sedangkan orangutan dewasa lainnya tinggal sendiri-sendiri.

Pada saat mencari makan, orangutan menggunakan keempat lengannya untuk berjalan dan memanjat, berpindah dari pohon yang satu ke pohon yang lain. Pergerakan memanjat pohon leih sering dilakukan jika dibandingkan dengan simpanse dan gorila (Bruce 2007). Pada umumnya hewan ini memakan buah dan bunga tanaman, khususnya jenis Ficus sp. Selain buah, binatang ini juga memakan telur burung, madu, dan lain-lain.

Orangutan juga dikenal sebagai makhluk payung, artinya dengan melindungi orangutan di habitat alaminya secara tidak langsung kita ikut menjaga keutuhan ekosistem hutan secara keseluruhan. Melindungi orangutan juga berarti ikut melindungi berbagai jenis tanaman dan binatang lain yang memberikan manfaat lebih besar bagi makhluk hidup lain termasuk manusia. Fungsi hutan sebagai sumber plasmanutfa, pengatur tata air, pembentuk iklim mikro, dan penyangga kehidupan akan tetap terjaga jika hutan terjaga dengan baik.

Sayang sekali, selama beberapa dekade terakhir populasi orangutan mengalami penurunan yang sangat derastis. Jerry Guo (2008) mencatat, populasi orangutan di Sumatra hanya sekitar 6. 500 ekor dan di Borneo hanya sekitar 20.000 ekor. Jumlah ini turun 50 persen dibandingkan dengan dua dekade sebelumnya. Para ilmuwan memperkirakan, orangutan akan punah dalam waktu satu atau dua dekade yang akan datang. Prediksi ini didasarkan pada laporan lembaga UN (2007) yang menyebutkan bahwa pada tahun 2022, habitat (tempat hidup) orangutan mengalami kerusakan hingga mencapai 98 persen. Kerusakan habitat ini disebabkan oleh penebangan liar, penambangan, dan pembukaan lahan hutan untuk pengembangan tanaman perkebunan. Selain karena kerusakan habitat, perburuan dan perdagangan liar orangutan juga mempercepat turunnya populasi binatang ini.

Kepunahan orangutan sebagai makhluk payung akan mengganggu keseimbangan ekosistem hutan secara keseluruhan. Kerusakan ekosistem hutan mengakibatkan turunnya kualitas lingkungan sebagai penopang kehidupan, termasuk manusia. Kerusakan hutan tentunya menimbulkan permasalahan lain seperti banjir dan tanah longsor, kekurangan air bersih, usaha pertanian yang tidak berjalan karena curah hujan tidak menentu, dan lain-lain. Oleh karena itu, menjaga orangutan di habitatnya sangatlah penting, selain untuk mencegah kepunahan binatang unik ini, juga sebagai upaya mempertahankan ekosistem hutan demi hidup kita sekarang dan gererasi yang akan datang. (GG)

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: