SEBELUM GELAM DATANG MENGHINGGAP

Hari belum petang, tetapi kabut sudah merendah hingga menutupi aspal. Lampu pick up sengaja tidak dinyalakan, karena pandangan masih bisa menyibak samar-samarnya untuk jarak 200 meter ke depan.

Pada setiap belokan pedal gas sengaja ditekan melemah, benar-benar tidak gegabah, karena mulut jurang di kiri dan kanan jalan memang merindingkan. Sekejap mata melayang ke langit khayal, seketika itu pula roda berpindah haluan ke tepi lahat.

Kendatipun lelah, aku berusaha untuk tidak lengah. Dirayu kantuk dan dingin pun aku tidak melupa laju.

Dari jantungnya, Leuser terus perlahan menghembuskan hawa tidurnya, hingga meraba ari-ariku. Aku menggigil. Kemeja yang kukenakan sudah setengah basah, tempiasan hujan tipis mengenainya.

rindangaku menghentikan laju pedal gas. Dari balik ransel kukeluarkan buju ganti.Di tepian yang rata, sedikit berteduh di bawah ‘budaya Aceh, budaya damai’ aku tersenyum membaca tulisan di dada baju putIh itu.

Aku terkagum-kagum, walau sebetulnya itu bukan sifatku. Inilah aku, kataku dalam hati. Inilah jati diriku yang sebenarnya. Dan untuk itulah sebenarnya aku menuju Beutung Ateuh. Walau orang mengatakan tidak mungkin karena melihat pekerjaanku, tapi untuk menghadapi stuasi yang tidak mungkin dan sulit segala sesuatu menjadi mungkin. Bukakah itu sebuah seni? kenangku pada salah satu poin dari conflict transformation by peacefull means yang di pajang di dinding kantorku.

Dari balik gagang setir aku terus membayangkan apa yang akan terjadi di Beutung Ateuh. Sebuah lembah penuh kenangan, dimana prasangka dan praduga masih ada di titik klimaks. Di mana dendam dan ketakutan belum benar-benar tuntas.

Namun dari balik dada, rasa itu terus bergetar bahwa perjalananku bukan menabur angkara murka, tetapi sebaliknya meneteskan embun penyejuk rasa.

Alamak…mataku meredup lelah, Singga Mata belum juga menampakkan wajahnya, tujuanku pun masih jauh di balik lembah. Di belakangku, Meulaboh sudah ke dalam samar-samar. Hanya jauh di sana buih-buih putih tampak menampar ujung karang.

Oh..mataku pun kembali terjaga memandang Meulaboh yang gelap. Mendung merendah membuatnya jadi kelam. Bayangku berputar kembali ke 2004, membuka kembali catatan hitam malapetaka, ketika gelombang pasang menyapu bersih segala denyut napas.

Benarkah itu malapetaka? dadaku berdebar memberontak. Ataukah keajaiban? Ruang refleksiku membenarkan. Malapetaka itu adalah anugerah dari Allah yang menghendaki kita untuk diam bertengkar dan berdebat, berhenti berperang dan berpesta pora di atas darah dan air mata.

Sebuah teguran mahadasyat yang menyentakkan ruang kesadaran kita hingga menarik pena ke atas lembaran kertas bernama MoU Helsinki. Tapi jika dicerna, lembaran kertas itu belum seberapa kuat. Fondasi pertobatan harus dating dari hati, niat yang tulus, kemauan untuk berbenah diri. Jadi…..

Prak…astaqfirullahazim..suara itu mengagetkanku. Seekor babi hutan terlempar ke bibir jurang. Badan samping kiri depan pick up telah menyenggolnya. Oh..aku telah menabraknya. Maafkan aku, maafkan aku. ‘Mengelamun tentang perdamaian saja sudah ada korban, apalagi bertindak demi perdamaian itu sendiri?”

Beutung Ateuh masih jauh, entah berapa kilo meter lagi aku mengejar senja sebelum tiba. Tapi di dalam benakku, aku menduga saudara-saudaraku di Beutung Ateuh menunggu. Para santri yang santun menanti salam. Perempan-perempuan pembuat kue dan penyulam kasab duduk sambil tersenyum. Pemusik memainkan alat musik mereka. Santriwan-santriwan bershalawat.

Aku menyebut mereka saudara, karena di atas fondasi tanpa paksaan, aku akan merajut kasih dengan kelembutan. Menggeser prasangka dengan pengharapan, dendam dengan cinta, bimbang dan kekuatan.

Hemsh…aku menarik napas sedalam-dalamnya. Menjelang petang hari itu, tersisah banyak tanya di ruang kepala. Namun ada satu yang mencuat paling lantang ‘Selepas senja, dapatkah kau terbitkan rembulan, sebab saudaraku ada di Lembah, di mana gelap selalu lebih duhalu hinggap? (Chrispy Bheda/GG)

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: