JERITAN ANAK NANGGROE

Serupa peluru kata-kata itu melejit lepas, serupa air mata kata-kata itu jatuh berderai, serupa peluh kata-kata itu basah, serupa puing kata-kata itu berserakan.

“Kami anak Aceh

Hanya mampu menatap

Melihat

Semua

Segala

…………………..”

Serupa kata, kata adalah rahasia. Kata adalah cerminan untuk membaca realitas yang sulit ditebak.

“sekian tahun yang lalu…

Aceh-ku menderita…

Kota, perkampungan dan masyarakat

Ikut menderita dan menjerit…

Menangis setiap waktu..

Teringat hari yang akan datang…”

Itulah rahasia kata, dia kadang bermakna, tetapi dalam banyak hal menyisahkan pekat. Apakah artinya “teringat hari yang akan datang?” mengapa bukan masa lalu yang harus diingat, tetapi justru masa depan? Dapatkah kita mengingat masa depan

apakah jeritan mereka kita baca sebagai seruan perubahan, pesan menuju perdamaian yang sesungguhnya atau hanya sebatas kata yang tak bermakna?

apakah jeritan mereka kita baca sebagai seruan perubahan, pesan menuju perdamaian yang sesungguhnya atau hanya sebatas kata yang tak bermakna?

Iagi-lagi itulah kata-kata, yang pada hari itu, 13 Agustus 2008, dalam rangka lomba cipta dan baca puisi memperingati tiga tahun penandatanganan MoU Helsinki pecah jadi histeria, jeritan, liar, merinding, menghujam lepas.

Bukan tanpa alasan jeritan itu terdengar menyayat rasa. 20 peserta lomba yang hadir pada kesempatan tersebut adalah siswa dan siswi SMU se-Kabupaten Aceh Barat. Mereka adalah Anak-anak generasi 1990-an. Mereka adalah saksi sejarah yang persis berada di titik peralihan antara berakhirnya konflik fisik menuju awal perdamaian.

Di pundak merekalah tanggung jawab perubahan itu diemban. Mereka adalah tali sejarah yang mengikat kedua kutup itu. Di pundak mereka pula masih terekam puing-puing masa lalu, tetapi perubahan sudah ada di depan mata.

Mereka hanya mampu melihat semua, segala tentang Aceh yang menderita. Tentang kota, kampung dan masyarakat yang ikut menderita dan menjerit, juga yang menangis setiap waktu.

Mereka hanya mampu melihat dan tidak mampu mengingat semua masa lalu. Mereka adalah generasi yang lahir ketika segala dan semua sudah hancur. Rongsokan moralitas yang menyelinap di antara puing-puing kehancuran. Mereka adalah generasi berpengharapan, tetapi pada saat yang sama diselimuti ketakutan.

Harapan dan ketakutan itu menyembul di depan mata, bukan dalam ingatan mereka. Sebab, apa yang mau diingat, selain hanya mampu melihat hamparan penderitan di depan langkah kaki mereka? Lantaran itu ingatan itu dilemparkan ke luar . Dilempar ke dunia antah berantah yang disebut masa depan “teringat hari yang akan datang”

‘Ingatan’ akan hari yang akan datang untuk generasi peralihan seperti mereka adalah ketakutan akan kembalinya kehancuran dan penderitaan, serentak tanggung jawab dan harapan membenahi puing-puing kehancuran itu jadi harmoni.

Di satu sisi trauma sejarah itu melekat di dada dan benak mereka. Namun di sisi lain dipundak merekalah perubahan Aceh harus dibangun dengan bertanggung jawab.

Histeria yang terbaca dalam kata-kata puisi mereka adalah sebagian kecil pemberontakan atas situsasi di atas. Ada kata yang tak terucap tapi terlepaskan lewat jeritan, lewat air mata, lewat tawa, lewat kepalan, lewat hentakan lewat sobekan kertas puisi.

Dari balik jeritan itu ada pesan yang hendak disampaikan. Bahwa perdamaian dari hati harus lebih diutamakan. Ketenangan ruang mental menjadi prioritas pembenahan. Di atas situasi yang demikian pembangunan fisik bisa dengan mudah dilaksanakan.

Namun demikian, pertanyaan reflektif buat kita adalah apakah jeritan mereka kita baca sebagai seruan perubahan, pesan menuju perdamaian yang sesungguhnya atau hanya sebatas kata yang tak bermakna?

(Chrispy Bheda/GG)

1 Comment (+add yours?)

  1. Asnawin
    Dec 30, 2010 @ 00:26:47

    Saya terenyuh membaca dan membayangkan acara lomba baca puisi antarsiswa SMU se-Kabupaten Aceh Barat ini. Untuk mengabadikan ingatan saya pada peristiwa ini, saya mengcopy paste foto saat seorang siswi membacakan puisi ke blog http://kabupatenbulukumba/blogspot.com/ (http://kabupatenbulukumba.blogspot.com/2010/12/pembacaan-puisi-warnai-peringatan-hari.html). Syukran…..

    Reply

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: