MENJEMPUT CAHAYA

<!–[if gte vml 1]> True True (“““““` (“““““` 0 287 4457700 2571750 DSC00823.JPG <![endif]–>

Tiga merpati putih terbang ke udara membawa pesan; pun dari bawah kubah, ribuan jemaah berkiblat menghadap ka’bah pinta pengabulan. Pesan dan doa menyatu pasrah, memohon berkah dan pahala, menyujut syukur kepada Sang Pencipta.

Hari itu, 15 Agustus 2008 kita, segenap jemaah Serambi Mekah, melepas status dan jabatan. Baik laki-laki atau perempuan, tukang becak atau pejabat, GAM atau RI, kawan atau lawan, semuanya duduk merendah menanti cahaya terbit dari balik kubah.

Itulah saat mengenang detik-detik bersejarah ketika tiga tahun silam kita mengangkat sumpah perdamaian. Kita sepakat meniadakan perang dan air mata, menyatu pendapat dalam satu jabatan tangan sambil mengucapkan ‘wasalam alaikum warhmatulah wabarakatuh’ kepada semua.

Dan, Dua hari berselang 17 Agustus 2008, sang saka merah putih menyusul berkibar ke langit lepas. Menjemput cahaya sambil melambai-lambi kepada semua untuk masuk ke dalam satu ikatan Negara Kesatuan Republik Indonesia.

Kita bersyukur kepada Sang Pencipta yang telah memberikan dan menciptakan suasana hati kita jadi tentram, tanpa beban dendam, prasangka murka dan apalagi perang dan air mata. Serambi Mekah, Nanggore Aceh Darusallam, bukan lagi tanah janjian, tanah harapan dan impian tetapi telah menjadi nyata dipijakan kita.

Tugas kita sekarang adalah menjaga suasana hati itu jadi amanah dalam tindakan, berbuah dalam situasi dan suasana, dalam pergaulan dan sapa meyapa. Kita harus mampu menciptakan suasana itu dari lingkungan keluarga, gampong, sekolah, kantor, masyarakat, bangsa dan negara sehingga ketentraman dan perdamaian tidak hanya menjadi milik pribadi atau sekelompok orang, tetapi milik semua, untuk semua lahir dan batin.

Cahaya perdamaian telah terbit dari balik Kubah, dan cahaya itu datang berkat perjuangan, kerja keras, harapan dan doa-doa kita. Tetaplah cahaya itu menyinari serambi mekah. Tariklah benang-benang kemilaunya ke dalam hati kita masing-masing dan jangan biarkan dia padam. Wujudkan niat itu dalam pergaulan dengan cara dan kemampuan kita masing-masing.

Akhirullkam, di bulan yang fitri ini, mari kita jadikan pula cahaya itu penerang jalan kita semua menuju serambi mekah yang kita cita-citakan, menuju Nanggroae Darussalam yang kita impikan. (Red/GG)

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: