Pendidikan Sebagai Fundasi Perdamaian

Aceh pasca-penandatanganan MoU Helsinki telah menyemai harapan akan kehidupan yang lebih baik bagi seluruh lapisan masyarakat Aceh. Setelah empat tahun berlalu, kesepakatan damai itu mampu menumbuhkan optimisme yang lebih besar bagi masa depan yang lebih baik bagi Aceh.

             Upaya-upaya untuk menjaga keberlanjutan perdamaian Aceh yang telah dicapai di Helsinki terus dilakukan oleh berbagai pemangku kepentingan perdamaian dengan melibatkan seluruh elemen masyarakat baik Aceh secara khusus, maupun masyarakat Indonesia secara lebih umum.

Akhir-akhir ini, menjelang pelaksanaan Pemilu Legislatif dan Presiden, tema perdamaian semakin sering menjadi konsumsi masyarakat Aceh. Perdamaian dan keberlanjutannya bahkan menjadi tema sentral dalam berbagai kegiatan diskusi dan seminar.

Media massa pun tak sepi dari berita dan opini sekitar keberlanjutan perdamaian Aceh. Semua usaha tersebut menunjukkan bahwa berbagai pihak merasa terpanggil untuk terlibat dalam upaya-upaya menjaga keberlanjutan perdamaian di Aceh.

Keberlanjutan perdamaian sejatinya mensyaratkan adanya upaya-upaya untuk membangun budaya damai dan rasa saling percaya sebagai ganti kekerasan dan saling curiga. Perubahan pola pikir dan pola tindak seperti itulah yang diharapkan datang dari segenap elemen masyarakat yang telah sekian lama hidup dan “dibesarkan” dalam situasi konflik.

Tanpa perubahan pola pikir dan pola tindak dalam kerangka budaya damai, perdamaian akan kehilangan pondasinya.

Salah satu cara paling efektif dalam upaya membangun budaya damai adalah melalui pendidikan. Perubahan pola pikir dan pola tindak yang dialami oleh para peserta didik diharapkan dapat menjadi landasan dan jaminan bagi keberlanjutan perdamaian. Melalui pendidikan perdamaian di sekolah, sekolah sebagai sebuah entitas sosial diharapkan dapat menjadi salah satu agen perubahan sosial, sekalipun dalam lingkup yang relatif sempit.

Sebagai salah satu upaya mewujudkan sekolah sebagai agen penebar budaya damai itu, maka kami berinisiatif untuk menawarkan sebuah model pembelajaran dan pendidikan partisipatif yang berlandaskan pada nilai-nilai perdamaian dan sejalan dengan norma-norma budaya dan agama setempat (Red/KK).

 

 

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: