Peran CSO dalam Transformasi Konflik

Prof. Ikrar Nusa Bakti PhD

Catatan Redaksi

Mendukung pemilihan umum 2009 yang aman dan damai, SUNSPIRIT melaksanakan serangkain program pemilu damai yang terdiri dari dua program utama yaitu pertama mendukung partisipasi perempuan dalam politik dan dalam kegiatan perdamaian, dan kedua, mempromosikan pemilu damai dan demokratis, pemilu tanpa kekerasan sebagai jalan untuk membangun perdamaian berkelanjutan. Salah satu item kegiatan dari serangkaian program kegiatan tersebut adalah dialog dan diskusi publik yang menghadirkan Prof. Dr. Ikrar Nusa Bakti dari LIPI-Jakarta. Dan tulisan yang hadir di hadapan pembaca merupakan salah satu poin dari beberapa poin penting yang disarikan redaksi  dari makalah beliau yang berjudul ‘Transisi Demokrasi dan Tranformasi Konflik (di) Aceh: Tantangan dan Peluang  Dalam Sistem Demokrasi Indonesia”

Damai yang kita nikmati saat ini memang jangan dianggap sudah abadi. Gangguan atas perdamaian masih saja terjadi. Dan jika tidak ingin konflik semakin membesar kembali (relaps), tidak ada cara lain kecuali kita yang tergabung dalam Civil Society Organizations (CSO) harus bahu membahu terus menerus mengampanyekan perdamaian di Aceh dan mengambil langkah-langkah positif secara sendiri-sendiri dan/atau bersama-sama agar Aceh damai, adil dan sejahtera itu benar-benar terwujud.

Pada era pasca-konflik di Aceh ini, CSO tetap memiliki fungsi dan peran yang amat menentukan untuk menjaga perdamaian dan melanjutkan perdamaian Aceh. Bangunan perdamaian di Aceh memang masih tahap awal dan amat rapuh, karena itu CSO memiliki peran yang amat krusial dalam pembangunan perdamaian jangka panjang dan berkelanjutan, seperti mengintegrasikan pembangunan perdamaian dan demokrasi serta perbaikan kualitas pembangunan untuk memenuhi kebutuhan hak-hak dasar warga Negara.

Selain itu CSO dapat berperan aktif dalam dan melalui berbagai kegiatan:

Pertama, terus menerus memonitor dan memberikan peringatan dini jika terjadi gangguan pada perdamaian di Aceh.

Kedua, melakukan advokasi baik kepada masyarakat dan pihak-pihak yang berkonflik agar “kata” yang lebih diutamakan dan bukan “senjata” dalam penyelesaian konflik. Artinya menyelasaikan masalah dengan jalan musyawarah dan dialog bukan melalui jalan konflik dan kekerasan.

Ketiga, terus menerus melakukan sosialiasi politik mengenai Aceh Baru yang Damai, Adil dan Sejahtera baik melalui kampanye perdamaian, pendidikan perdamaian maupun melalui jurnalisme damai.

Keempat, menciptakan kohesi social politik seperti membangun zona-zona damai antra lain dalam bentuk pasar bersama yang memungkinkan pihak-pihak yang berkonflik bertemu dalam suasana damai.

Kelima, melakukan intermediasi atau memfasilitasi kelompok-kelompok yang bertikai, konsultasi antar pihak dan membangun kelompok tengah yang dapat menjadi peace constituent baru.

Keenam, memberikan pelayanan seperti pengobatan gratis, pengembangan ekonomi kelompok menengah ke bawah, trauma healing dan pemberian pendidikan dan pelatihan bagi korban-korban konflik agar dapat hidup secara normal.

Berbagai kegiatan tersebut di atas mustahil sudah dilakukan CSO yang bergerak di bidang rekonstruksi dan rehabilitasi di Aceh dengan kelompok yang aktif di bidang perdamaian jangka panjang. Namun demikian semua CSO dalam program dan agenda kerjanya masing-masing dan khas telah memberikan wajah baru bagi Aceh yang lebih baik.

Semoga harapan akan Aceh Baru yang damai, adil dan sejahtera benar-benar terwujud.

* Penulis adalah Profesor Riset Bidang Intermestic Affairs Pusat Penelitian Politik-LIPI Jakarta

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: