Kami Mau Belajar Membaca dan Menulis

pendidikan perdamaianProses belajar mengajar baik untuk anak-anak maupun remaja di pasantren Babul Mukarammah Beutung Ateuh sudah sedang berjalan sepanjang Mei-Juni. Proses belajar yang direncanakan hanya dilaksanakan pada setiap hari sabtu justru diadakan setiap hari dengan jumlah anggota yang terus bertambah. Kegiatan anak-anak dari 7 peserta pada awal kegiatan sudah menjadi 14 peserta hal yang sama pun terjadi pada remaja yang pada awalnya hanya terdapat 5 peserta sekarang sudah menjadi 9 peserta. Keseriusan fasilitator dan keaktifan peserta  sebenarnya dilatari oleh dua hal: Pertama, semuanya adalah para santri dan santriwati sehingga mudah untuk diorganisir. Kedua, materi yang diberikan berangkat dari kebutuhan peserta didik itu sendiri sebagai misal belajar membaca, menulis, dan berbicara di depan kawan-kawannya. Ketiga, adalah karena keterbatasan ruang kreatifitas, ruang atau media berkumpul bagi mereka, lantaran itu kegiatan ini disambut positif .

 Selama rentang waktu Mei-Juni saya berusaha untuk melihat sekaligus mengevaluasi metode dan konsep pendidikan yang tepat untuk para santri, dan kami menganggap perlu bahwa bukan konsep perdamaian dan keadilan yang secara langsung diberikan kepada para santri, tetapi lebih kepada pengetahuan teknis seperti belajar membaca, belajar menulis, belajar berbicara di depan umum. Seperti diketahui empat desa di Beutung Ateuh hanya terdapat 1 Sekolah Menengah Pertama dan Satu Sekolah Dasar dengan semua guru yang ada adalah guru honor selain kepala sekolah dari masing-masing sekolah yang adalah pegawai negeri.

 ”Semua soal yang diujikan dalam ujian akhir tidak ada satu pun yang pernah saya dapatkan selama tiga tahun saya belajar di SMP” demikian kata Karmila, salah seorang peserta didik pendidikan perdamaian di Beutung Ateuh. ”Semuanya guru honor, juga buku-bukunya  nggak ada, kalau kita salah sedikit gurunya marah-marah” tambah Mohammad Daud peserta didik yang lain yang juga ketua OSIS SMP Beutung Ateuh ”Kami mau belajar bahasa Inggris, komputer, Menulis dan membaca di sini” tambahnya.

 Di balik keaktifan, keseriusan dan optimisme peserta didik terhadap program ini, saya menyadari sungguh peran dan tanggung jawab yang semakin besar. Antara tantangan dan harapan, antara tanggung jawab dan resiko yang akan dihadapi, saya menyadari bahwa perdamaian sesungguhnya dibangun oleh pengetahuan. Dan pengetahuan itu dimulai bukan hanya di dan dalam ruang kelas, tetapi dalam keseharian, di ruang informal baik melalui pendidikan nilai-nilai sejarah dan keagamaan,  juga oleh pengetahuan teknis lainnya seperti membaca dan menulis. (Kris Bheda/Komkit)

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: