MERAJUT DAMAI DARI GEUNANG GEUDONG SAMPAI SUAK TIMAH

Dua puluh enam remaja putra dan putri saling membantu menutup mata temannya dengan syal hijau dan merah. Tak lama berselang mereka mulai berjalan beriring perlahan dalam dua kelompok yang berbeda dan melewati rintangan demi rintangan dari tali dan tongkat yang telah dipasang di hadapan mereka. Ada saat mereka harus merangkak, sesekali harus tiarap atau melompat. Semua itu mereka lakukan dalam kelompok. Kerjasama kelompok, antara ketua dan anggota, merupakan kunci untuk sampai ke tujuan dengan selamat dan sukses. Itulah salah satu pengalaman peserta Peace Education dari SMAN 1 Bubon ketika mengikuti kegiatan Peace Education di Geunang Geudong, Kawai XVI, Aceh Barat pada Minggu 2 Agustus 2009.

Selain game blind walk, mereka juga sangat antusias mengikuti game-game berikutnya seperti memindahkan bola di atas tali, tangga manusia, dan menjatuhkan tubuh ke arah teman. Pada akhir permainan, sambil melepas lelah dan menikmati minuman dingin yang menyegarkan, mereka bersama-sama mencoba menggali pelajaran dan hikmah dari keempat permainan tadi. Nurjanah dan Fifiyanti sebagai fasilitator mengajak mereka untuk terlibat secara aktif dalam memaknai dua topik hari itu yakni, (1) Kepemimpinan dan Kerjasama dalam Membangun Perdamaian serta (2) Mengembangkan Rasa Saling Percaya dalam Membangun Perdamaian.

Pelajaran yang mereka petik dari permainan blind walk dan memindahkan bola di atas tali adalah pentingnya kombinasi antara peran pemimpin dan kerjasama seluruh anggota kelompok dalam mencapai tujuan bersama dengan selamat dan sukses. Sedangkan pelajaran dari permainan tangga manusia dan menjatuhkan tubuh ke arah teman adalah pentingnya membangun rasa saling percaya dalam membangun perdamaian sebagaimana ditunjukkan oleh kedua belah pihak yang bertikai selama puluhan tahun di Aceh. Sebaliknya hilangnya rasa saling percaya harus dibayar dengan terancamnya keselamatan anggota kelompok. Hal yang sama terjadi dalam konteks sejarah Aceh, hilangnya rasa saling percaya merupakan tungku bagi api konflik berpuluh tahun. Semoga pelajaran hari ini yang dikemas dalam metode permainan yang partisipatif dapat menumbuhkan kesadaran akan pentingnya membangun budaya damai sejak dini dalam diri peserta Peace Education.

Pantai Suak Timah, Samatiga, Minggu, 9 Agustus 2009, empat kelompok siswa/i SMA terlihat berjuang mati-matian mempertahankan posisi mereka dengan memegang erat tali tambang dengan kedua tangan dan berusaha menarik lawan sampai melewati garis pembatas. Mereka sedang terlibat ”adu otot” dalam permainan tarik tambang empat arah yang akan berlangsung dalam empat putaran. Empat kelompok remaja itu tidak menunjukkan niat untuk mengalah ataupun berkompromi ketika jeda antarputaran tiba meskipun telah diberikan waktu untuk itu, masing-masing kelompok sama sekali tak bergeming, pilihan mereka sangat jelas: menang atau kalah. Dan keempat-empatnya ngotot untuk menang.

Empat putaran selesai. Hasilnya, ada kelompok yang meraih dua kali kemenangan, ada yang sekali, tetapi ada pula yang tidak mengecap kemenangan sama sekali. Tarik tambang empat arah merupakan salah satu media belajar remaja-remaja SMA hari itu selain drum circus, net tunnel, dan reservoir. Keempat permainan hari itu hendak membawa mereka untuk menyadari realitas kehidupan yang sering mereka jumpai sehari-hari. Di bawah topik (1) Win-win Solution sebagai Prinsip dalam Menyelesaikan Konflik dan (2) Kooperasi dan Kolaborasi dalam Rangka Mencapai Tujuan Bersama, 22 siswa/i SMAN 1 Meulaboh dan 19 siswa/i SMAN 2 Meulaboh yang merupakan perserta Peace Education membaur dan menyatu selama kegiatan sepanjang pagi hingga sore hari itu. Selain antusias dalam mengikuti permainan-permainan, mereka juga terlibat aktif dalam refleksi akhir untuk menyelami makna dari setiap permainan dengan dampingan Fifiyanti (fasilitator), serta Arma dan Purnama (alumni Peace Education SMAN 1 Meulaboh).

Melalui permainan drum circus, net tunnel, dan reservoir mereka belajar bahwa perdamaian Aceh yang telah dicapai merupakan buah dari kerjasama dan kolaborasi dari semua elemen masyarakat Aceh. Seperti dalam permainan tersebut, setiap anggota kelompok memiliki peran yang khas dan saling melengkapi sehingga mereka bisa sukses menyelesaikan setiap ”tantangan” dalam permainan. Mereka juga belajar untuk merayakan kemenangan dalam permainan itu bersama-sama tanpa tergoda untuk mengklaim siapa yang paling berjasa dalam membawa kelompoknya sukses menyelesaikan permainan.

Permainan tarik tambang empat arah membangkitkan kesadaran mereka untuk tidak terkungkung ke dalam pola pikir menang-kalah yang terbukti telah membawa Aceh ke dalam jurang konflik berkepanjangan. Sebaliknya mereka diajak untuk berpikir kreatif dan mengutamakan prinsip win-win solution dalam menyelesaikan perbedaan dan konflik dalam kehidupan sehari-hari karena dengan cara demikian pula perdamaian Aceh berhasil digapai.

 

(Leo Depa Dey/Staf Peace Education)

1 Comment (+add yours?)

  1. SAUT BOANGMANALU
    Jan 24, 2010 @ 17:05:09

    TERIMAKASIH ATAS INFORMASI DAN TULISANNYA, CUKUP BERMANFAAT BUAT BACAAN/REFRENSI UNTUK REGENERASI. KUNJUNGI JUGA SEMUA TENTANG PAKPAK DAN UPDATE BERITA-BERITA DARI KABUPATEN PAKPAK BHARAT DI GETA_PAKPAK.COM http://boeangsaoet.wordpress.com

    Reply

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: