MERDEKA DARI KEMALASAN DAN KEBODOHAN

Seorang anak terburu-buru mengayuh sepeda onthel melewati jalan setapak. Baju lusuh yang dikenakannya jelas menggambarkan dari mana dia berasal. Ia anak seorang nelayan miskin yang seperti hari-hari sebelumnya selalu mengayuh sepeda 80 kilometer pulang pergi dari rumahnya dan melewati jalan setepak itu untuk sampai di sekolah. Namun sayang, tekadnya hari ini untuk sampai di sekolah dihadang seekor buaya yang melintang di atas jalan setapak itu. Ia pun menghentikan sepedanya dan menunggu kemujuran menghalau buaya itu dari hadapannya.

 

Dua sosok yang berbeda dan mewakili generasi yang berbeda pula terlibat dalam suatu percakapan pagi itu. ”Kita masih membutuhkan satu orang murid lagi agar sekolah ini tetap berdiri, kalau jumlahnya hanya sembilan, tamatlah riwayat sekolah ini.” Kata-kata itu keluar dari mulut lelaki tua kepada seorang ibu guru muda yang duduk di hadapannya. Selanjutnya, dalam kebisuan yang getir kedua guru itu terus menanti datangnya satu orang lagi murid baru agar sekolah itu tidak ditutup pemerintah.

 

Sebagian dari Anda mungkin masih menyimpan ingatan akan cuplikan dua adegan di atas. Itulah sepintas perjuangan Lintang Samudra Basara bin Syahbani Maulana Basara, anak nelayan kampung yang bermimpi dapat mengubah nasibnya dengan bersekolah. Meski untuk itu ia harus mengayuh sepeda onthelnya 80 kilometer setiap hari, setelah sebelumnya memasak makanan dan mengurus adik-adiknya yang masih kecil sambil menanti pulangnya ayah dari melaut. Bila melihat ayahnya kembali, Lintang segera bergegas memburu waktu untuk sampai di sekolah.

    

Adegan berikutnya adalah Pak Harfan Efendy Noor dan Bu Muslimah Hafsari Hamid, dua guru SD Muhammadiyah yang berharap-harap cemas mendapat tambahan satu orang murid lagi agar satu-satunya sekolah ”murah” itu tidak ditutup pemerintah. Bagi keduanya, ditutupnya sekolah rakyat biasa itu berarti menutup kesempatan bagi anak-anak rakyat biasa untuk mengejar impian mereka.

    

Kedua adegan itu merupakan cuplikan dari Film Laskar Pelangi yang banyak mendapat pujian dari berbagai kalangan sebagai film nasional yang berhasil menggugah insan peduli pendidikan di tanah air. Dua cuplikan tadi merupakan peristiwa yang terjadi berpuluh tahun silam di desa Gantung, Belitung Timur. Namun sebagaimana diakui banyak pihak, setelah sekian tahun merdeka, kisah yang sama, dan bahkan yang lebih memilukan lagi masih dapat kita jumpai di seantero pulau-pulau kecil terdepan dan pedalaman nusantara yang berjajar dari Sabang sampai Merauke.

    

Ketiga sosok yang dilukiskan tadi, Lintang, Pak Guru Harfan, dan Bu Guru Muslimah merupakan potret pejuang yang pantang menyerah pada tantangan dan kesulitan hidup. Mereka merupakan potret orang-orang kecil berjiwa besar yang pantang tunduk di bawah jeruji kemalasan dan kebodohan.

    

Kick Andy, acara yang rutin ditayangkan Metro TV setiap Jumat malam dan Minggu siang pernah menampilkan satu episode tentang wajah pendidikan kita di pedalaman Sumatera Utara, tepatnya di desa Sigoring-goring, Padang Lawas, Tapanuli. Bagaimana Raja Dima Siregar satu-satunya guru di SD setempat harus mengampu semua kelas yang ada di sekolah tersebut karena tidak ada guru lain yang rela ditempatkan di kampung seterpencil itu. Atau kisah penjaga sekolah di pedalaman Papua yang berani bangkit melawan kebodohan dengan menjadi guru SD bagi anak-anak kampung setempat karena tidak ada guru yang betah bertugas di kampung itu.

    

Mimpi dan semangat untuk membuat hari esok menjadi lebih baik dari hari ini dan keyakinan bahwa masa depan yang lebih baik adalah juga hak anak-anak daerah terpencil mampu membuat guru-guru yang luar biasa itu total mengabdikan dirinya. Mereka tidak memilih tinggal di ibukota kecamatan, apalagi di ibukota kabupaten. Mereka memilih menetap di kampung dan menjadi guru kampung. Alasan mereka sederhana saja. Mereka mengenal jati diri mereka sendiri. Mereka adalah guru. Bagi mereka sosok guru jauh berbeda dengan pengawas proyek jalan atau jembatan yang pernah mereka lihat. Pengawas proyek boleh datang sekali dua untuk meninjau dan mengawasi jalannya proyek. Bila pengawas proyek tak datang selama seminggu karena ada urusan di ”kantor pusat” itu bisa dimakumi. Namun tidak demikian dengan guru. Guru jelas bukan pengawas proyek. Dan ukuran berhasil tidaknya mendidik anak-anak tidak semudah menyusun bata atau membuat campuran semen dan pasir.

    

Bila pemerintah terkesan lebih peduli pada angka statistik persentase kelulusan Ujian Nasional, guru kampung yang sejati lebih peduli pada pembangunan karakter anak-anak kampung agar menjadi manusia berkarakter. Manusia berkarakter yang sanggup memimpin dirinya sendiri sebelum menjadi pemimpin bagi orang lain. Manusia berkarakter yang peduli pada harkat, martabat, dan harga diri sesamanya sekampung, sebangsa dan setanah air. Manusia berkarakter yang berani menolak tegas penyalahgunaan jabatan dan kuasa untuk memenuhi ambisi dan nafsu rendah keluarga, kelompok, golongan, partai dan kroni-kroninya. Manusia berkarakter yang sadar sungguh bahwa jabatan dan kuasa adalah amanah Sang Khalik dan doa rakyat yang memilihnya yang kelak harus dipertanggungjawabkan ketika raga berkalang tanah.

 

Bagi Pak Guru Harfan dan Bu Guru Muslimah, dan guru-guru kampung lainnya yang penuh dedikasi, menjadi guru berarti membangun karakter manusia. Namun mereka pun sadar bahwa kerja keras dan keringat mereka tak akan berarti apa-apa bila tak disertai teladan nyata dalam hidup sehari-hari. Menjadi guru berarti untuk digugu dan ditiru. Menjadi guru pertama-tama berarti panggilan hidup. Panggilan hidup sebagai guru kampung berarti berjuang dalam keteguhan hati yang mantap tak tergoyahkan untuk mendidik dan menyemai asa anak-anak kampung untuk menegakkan harkat dan martabat mereka sebagai manusia. Celakanya masih banyak guru yang menolak menjadi guru kampung, guru yang bersedia menetap di kampung. Meskipun pemerintah telah merusaha memberikan insentif di luar gaji yang saat ini tergolong memadai (khususnya bagi guru PNS) namun kelompok guru ini tetap memilih tinggal di ibukota kabupaten, atau setidaknya ibukota kecamatan. Predikat guru kampung, guru yang bersedia menetap di kampung bersama anak-anak didiknya rupanya kurang ”seksi” di zaman Blackberry ini.

 

     Sebaliknya, bagi guru-guru kampung yang bersedia menetap di kampung, hingga kini pun  ”semangat memindahkan gunung” dan dedikasi yang mengalir dalam darah mereka tak selamanya dihargai dengan selayaknya oleh para pemimpin bangsa ini. Hal ini terlebih dialami oleh guru-guru non-PNS. Coba tanyakan pada guru-guru sekolah swasta kecil terpencil. Coba tanyakan pada guru-guru honor, kontrak, atau apapaun kategori yang dilekatkan pemerintah kepada mereka. Pemerintah sejauh ini masih sibuk ”membenahi kesejahteraan” rekan-rekan mereka yang secara administraif berstatus Pegawai Negeri Sipil. Entah kapan perhatian pemerintah menjangkau guru-guru non-PNS di kampung-kampung kecil pedalaman terpencil itu.

    

Kisah piluh ini tak hanya milik para guru. Anak-anak kampung yang mereka didik juga punya kisah sendiri. Anak-anak kampung ini sudah merasa cukup bila masih bisa bersekolah. Mereka seolah tak pernah diajari kosakata ”menuntut” oleh guru-guru mereka, meskipun yang dituntut itu sesungguhnya merupakan hak mereka sebagai anak kandung Proklamasi 1945. Jangankan sepeda, apalagi kereta (baca: motor), mereka bergegas ke sekolah dengan berjalan kaki, kadang mereka harus menyeberangi sungai dengan rakit, namun ada pula yang harus menyeberangi sungai dengan berenang sambil tangan kirinya memegang baju dan buku agar tak basah. Di sekolah, jangankan perpustakaan, untuk buku tulis saja mereka masih harus menanti datangnya musim panen, atau jika ada para dermawan yang ikhlas membantu. Di manakah pemerintah? Untuk apa Pilkada? Untuk apa Pemilu? Masihkah NKRI ada di hati mereka sebagai pewaris negeri ini?

    

Mereka, anak-anak yang hidup di daerah-daerah pedalaman dan terpencil, juga bapak-ibu guru mereka yang luar biasa itu, mereka sungguh memaknai arti kemerdekaan ini dengan setia. Hari demi hari mereka menolak tunduk di bawah jeruji kemalasan dan kebodohan. Meski mungkin mereka tak mengigat dengan benar susunan sila-sila Pancasila. Atau belum bisa mengucapkan dengan lancar amanat Proklamasi NKRI 1945 yang tercantum jelas dalam Alinea Keempat Pembukaan UUD 1945: mencerdaskan kehidupan bangsa! Namun impian akan masa depan yang lebih baik, dan semangat ’45 yang selalu mereka kobarkan dengan terus belajar dan mengajar merupakan bukti betapa mereka memahami apa itu artinya MERDEKA! Pada mereka kita mungkin perlu berkaca: apa artinya MERDEKA?!

 Leo Depa Dey/KomKit

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: