Mewujudkan Komunitas Berdaya

Prima, mahasiswi Program Master Management of Development studies di Universitas Van Hall Larenstein Belanda dalam penelitiaanya selama 25 hari di 10 kelompok perempuan di 10 desa dampingan SUNSPIRIT di Bubon dan Woyla memberikan catatan penting perihal peran komunitas, khususnya kaum perempuan dalam membangun komunitas berdaya.

         Menurutnya, walau pun perempuan sering diabaikan dalam peran serta membangun komunitas, sesungguhnya pengabdian seorang perempuan akan tugas dan perannya sebagai ibu rumah tangga dan pencari nafkah semasa konflik pantas untuk diapresiasi. “Semasa konflik mayoritas perempuan adalah tulang punggung keluarga, bukan sang suami. Sang suami rentan terhadap terror sehingga membuat mereka lebih banyak berdiam diri di rumah. Lantaran itu perempuanlah yang menjadi tumpuan keluarga” jelasnya.

Pernyataan itu dibenarkan oleh ka Cut, seorang perempuan setengah baya dari desa Glee Siblah Aceh, yang semasa konflik membiarkan rumahnya menjadi tempat persinggahan kedua kubu yang berkonflik (TNI dan GAM). “Siang hari kami menderes karet, kami menyuruh suami kami duduk di kedai saja dan bergabung dengan laki-laki yang lain. Karena pada masa konflik kalau suami yang pergi kerja maka akan terjadi sesuatu yang membahayakan. Sehingga daripada terjadi sesuatu, lebih baik suami disuruh pergi berkumpul dengan yang lain di kedai” kisahnya.

Empat tahun sudah peristiwa itu terjadi, Ka Cut yang sekarang bergabung menjadi salah satu anggota kelompok Jaringan Perempuan SAKINAH tetap menunjukkan semangat pengabdian dan kerja kerasnya, bukan hanya membangun keluarga, tetapi juga komunitasnya. Sekarang, bersama seluruh anggota Jaringan SAKINAH yang berjumlah seratus dua puluh tujuh orang, sedang menunggu sertifikasi dinas kesehatan Aceh Barat atas produk industri rumah tangga mereka.

Ini adalah wujud kerja keras, dan lebih dari itu adalah kesadaran akan pentingya perubahan di wajah komunitasnya masing-masing.  Sama halnya dengan kelompok jaringan Perempuan SAKINAH, kelompok jaringan petani di 10 desa se-kecamatan Bubon dan Woyla pun terus menunjukkan hasil positif. Pertemuan internal kelompok terus dimaksimalkan. Pengembangan system pertanian organik tetap dan terus digalakan. Di desa Gunung Panah misalnya, kelompok jaringan petani sedang menunggu hasil panen kacang tanah yang sudah mereka tanam. Di desa Seunebuk Trap produk pertanian organik seperti cokelat, semangka sudah bias dipanen, walau dalam jumlah yang kecil.

Suatu kebanggaan tersendiri bagi komunitas, secara khusus bagi kelompok SAKINAH maupun petani, karena dalam kapasitasnya masing-masing telah memberi peran yang maksimal dalam membangun dan mewujudkan komunitas yang mandiri dan berdaya. “Sulit bagi kami untuk mengukur tingkat keberhasilannya, tetapi kami sudah mendapatkan sesuatu dari jaringan ini walau pun sedikit, mungkin ini bias menjadi ukurannya ” kilah Fahrudin kepala pusat pelatihan dan pemberdayaan pertanian organik Bungong Jaroe di Gunung Panah di sela-sela kesibukan menerima crew DAAI TV Jakarta pada Jumad 21 Agustus 2009 .

 

(Ijal Hanafiah Abas/Komkit)

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: