Andai Bungong Jaroe Jadi Bank Tani

Oleh: John Pluto Sinulingga

Pada kesempatan ini pembaca akan saya undang untuk berandai-andai tentang suatu tempat yang sebenarnya tidak jauh dari tempat tinggal kita (baca : Kecamatan Bubon dan Kecamatan Woyla). Tempat yang selama ini dijadikan sebagai pusat pelatihan (fungsi selama ini) bagi siapa saja untuk mengetahui tentang pertanian berkelanjutan (organik)secara teori dan praktek. Dengan satu bangunan yang cukup bagus sebagai ruang kelas bahkan untuk menginap, istirahat (kalau mau), hamparan lahan yang cocok untuk ditanami dengan tanaman semusim (palawija) ditambah dengan satu unit kandang kambing dan beberapa unit kandang ayam, membuat  tempat yang dinamakan Bungong Jaroe ini sangat ideal sekali.    

Namun dapat kita menambah fungsi “Bungong Jaroe” ini menjadi pusat perekonomian petani sekitarnya? Ini mungkin pertanyaan yang sangat gampang untuk dijawab, namun mewujudkannya saya rasa bisa juga segampang untuk menjawab pertanyaan di atas. Asalkan ada kemauan dan keyakinan dari petani sendiri untuk menambah fungsi “Bungong Jaroe”.

Kita sama-sama tahu bahwa sudah banyak petani-petani yang pernah datang dan mendapatkan pengetahuan tentang pertanian berkelanjutan (organik) dari “Bungong Jaroe” dan sekarang telah mengembangkannya di lahan masing-masing. Dan kita sama-sama yakin bahwa petani-petani yang pernah belajar di “Bungong Jaroe” telah menerapkan ilmu yang mereka dapat tersebut. Namun memang kita juga tidak dapat dipungkiri bahwa ada juga petani yang masih belum menerapkannya secara maksimal.

Nah, jikalau saja petani-petani yang telah belajar pertanian berkelanjutan (organik) tersebut berhasil memproduksi kacang panjang, cabai, timun, semangka, gambas dan lain-lain. Kemana mereka akan menjualnya? Jawabannya bisa jadi, diutamakan untuk dikonsumsi sendiri, dijual ke tetangga satu kampung, dijual ke pasar tradisional terdekat atau biasanya dijual kepada agen-agen yang datang sendiri ke kebun-kebun petani.

Petani pada dasarnya akan butuh kepastian tentang ke mana hasil bercocok tanam mereka akan dijual. Nah, di sinilah “Bungong Jaroe” mengambil peran untuk memastikan kepada petani sekitar. “Bungong Jaroe” akan berfungsi untuk mempertemukan petani dan konsumennya secara langsung. Petani-petani yang selama ini terhimpun dalam satu jaringan petani dapat mendistribusikan hasil panen palawija (atau hasil panen yang lain kalau ada permintaan) ke “Bungong Jaroe” dengan harga yang telah disepakati bersama. “Bungong Jaroe” dengan pengelolanya harus dapat menghubungkan semua hasil panen tersebut dengan pelanggan-pelanggan di kota. Misalnya; rumah sakit, hotel-hotel, restoran dan rumah makan, bahkan pelanggan-pelanggan perseorangan yang paham tentang makanan sehat. Hal ini dapat dilakukan jika petani-petani melakukan proses bercocok tanam mereka secara kontinyu (tidak putus-putus).

Saya berikan contoh seperti ini. Untuk kebutuhan timun pang. Kalau saja setiap cafe, restoran atau rumah makan saja setiap hari membutuhkan 5 kilogram timun. Berapa banyak cafe, restoran atau rumah makan yang ada di Meulaboh? Misalkan saja jaringan petani melalui “Bungong Jaroe” dapat mendistribusikan 15 cafe, restoran dan rumah makan berarti dalam 1 atau 2 hari kita harus menyediakan 75 kilogram timun pang. Artinya jaringan harus dapat menyediakan timun pang untuk memenuhi kebutuhan tersebut. Nah, untuk memenuhi tersebut harus dilakukan penataan penanaman oleh petani di lahan mereka masing-masing sehingga ketika panen tidak sekaligus habis dijual. Namun ada persediaan cadangan di kebun untuk memenuhi kebutuhan pelanggan agar tidak terputus. 

Kalau diamati dengan proses distribusi seperti ini akan memotong jalur pemasaran yang selama ini telah dibuat dan dikuasai oleh agen-agen yang terkadang membeli dengan murah hasil panen petani. Pendek kata apabila jalur pemasaran semakin pendek maka hasil penjualan yang diperoleh petani semakin lumayan. Disamping itu dengan memberdayakan “Bungong Jaroe” sebagai pusat perekonomian petani maka khayalak ramai akan paham apabila mencari bahan pangan yang sehat. Bahkan pelanggan-pelanggan perseorangan akan datang dan akan melihat sendiri proses bercocok tanam yang petani lakukan. 

Melalui jaringan petani yang sudah terbentuk, proses simpan pinjam yang telah berjalan dapat dilakukan secara langsung di “Bungong Jaroe”. Istilah sederhananya “Bank Tani” atau koperasi. Karena setelah mendapatkan hasil jerih payahnya, petani dapat langsung menyimpan uangnya dan mengembalikan pinjamnya. Untuk mekanisme detailnya dapat dibicarakan pada pertemuan jaringan nantinya.

Hal terpenting menuju andai-andai saya tadi adalah petani-petani yang sudah tergabung dalam jaringan petani harus dapat menghasilkan panennya secara kontinyu, dapat membuat jaringan pemasaran dengan pihak-pihak yang membutuhkan (rumah sakit, hotel, cafe, restoran, rumah makan dan perseorangan), mengetahui informasi tentang harga dan pasar. Dan yang harus diingat bahwa keunggulan hasil petani adalah pangan yang sehat. Nah, fungsi “Bungong Jaroe” akan semakin banyak; sebagai pusat pelatihan, pusat perekonomian petani dengan hasil-hasil dari kebun masing-masing bahkan suatu saat akan menjadi “Bank Tani”. Semoga……….

*Penulis adalah penggiat dan fasilitator pertanian yang berkelanjutan

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: