Meniti Harapan Baru

Mewujudkan komunitas atau masyarakat yang berdaya dan mandiri, memiliki pola pikir yang kritis dan kesadaran yang kuat untuk mau berubah dan berbenah diri serta jernih melihat fakta dan realitas ketidakadilan, kesengsaraan, keserakahan, ketimpangan struktur dan sekat sosial, kehancuran ekologis atau kerusakan alam sebenarnya butuh waktu panjang.

Dalam konteks Aceh, dimana setelah sekian lama masyarakatnya terjebak dan bergulat dalam konflik panjang lantas ditimpa trauma gempa dan tsunami yang mencekam proses mewujudkan cita-cita besar itu butuh waktu yang panjang jua.

Kasat mata, situasi Aceh pasca penandatangan MoU Helsinki di Finlandia pada 15 Agustus 2005 sudah aman dan damai. Kita pun mencatat bahwa secara umum situasinya sudah jauh berbeda dibandingkan tatkala konflik masih berkecamuk. Berbagai upaya pembenahan mendorong terwujudnya Aceh Baru dijalankan dalam skala besar dan dalam berbagai sektor. Dan hal yang paling mencolok adalah pembenahan di sektor rehabilitasi dan rekonstruksi, selanjutnya penataan kehidupan ekonomi, politik dan pendidikan.

Namun, setelah empat tahun pascapenandatanganan MoU Helsinki, dibenak kita warga masyarakat Aceh masih bergantung pertanyaan pertanyaan krusial yang mesti kita jawab.

Bagaimana seharusnya memulai arah pembangunan yang berbasis komunitas? Bagaiamana seharusnya kita meletakkan titik pijaknya agar sebuah komunitas atau masyarakat menjadi benar-benar mandiri dan berdaya? Apa yang menjadi modal utama pembangunanĀ  masyarakat atau komunitas. Apakah uang, infrastrutur, struktur dan sistem ataukah manusianya? Bagaimana strategy pembangunannya? Siapakah seharusnya yang lebih berperan dalam proses pembangunan tersebut? Dan sejauh manakah sebuah lembaga pemberdayaan mengintervensinya? Dan sejauh mana pula pemerintah memberi andil pada perubahan sosial dan pembangunan?

Belum lagi jika pertanyaan yang senada diarahakan ke bidang pendidikan, kesehatan, budaya dan agama. Bagaimana membangun pendidikan yang kontekstual? Pelayanan kesehatan yang menyapa kaum miskin pedesaan? Revitalisasi budaya dan juga kepatuhan pada nilai-nilai moral dan agama?

Bukan mustahil bahwa pertanyaan-pertanyaan tersebut di atas telah di jawab dalam proses dan arah pembangunan sementara ini. Namun, adalah tepat jika pertanyaan yang sama diajukan sebagai titik pijak refleksi bersama menyongsong tahun mendatang. Sebab bukan tidak mungkin pula, bahwa jawaban atas pertanyaan-pertanyaan di atas adalah pekerjaan besar kita semua di tahun 2010.

Dalam kapasitas dan cara kita masing-masing, bahu membahu, bekerjasama menata Aceh ke arah yang semakin baik. Jangan kembalikan Aceh ke titik nol. Ini bukan seruan omong kosong. Tetapi sebuah ajakan kepedulian yang berkaca pada fakta bahwa pembangunan perdamaian yang berkelanjutan di Aceh adalah sebuah proses yang sangat panjang. Mari kita memulai dari sekarang untuk Aceh ke depan yang semakin baik. Mari kita merefleksikannya sekali lagi secara matang untuk solusi yang lebih baik.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: