Komunitas, Menyeberang Menuju Perubahan

Pulang Kebun. Seorang perempuan Warga desa Beutung Ateuh nagan Raya meenyeberang jembatan gantung di desa Blang Merundeh Beutung Ateuh.

Perubahan ke arah yang lebih baik seharusnya bukan sekedar slogan kosong. Tetapi sebaliknya merupakan sebuah upaya kongkret yang selalu mendesak untuk dilaksanakan.

Selalu yang diagungkan dalam upaya mendorong perubahan adalah optimisme dan kebersediaan untuk bekerjasama. Namun optimisme tanpa komitmen untuk perubahan tidak akan terwujud. Demikian juga, kerjasama tanpa dilihat sebagai sebuah modal social, sudah barang tentu cita-cita perubahan akan luncas (salah arah).

Empat pilar kekuatan ini menjadi penting untuk dipunyai oleh siapa pun baik sebagai pribadi maupun kelompok (dari komunitas sampai kepada sebuah bangsa) jika hendak setia kepada cita-cita mewujudkan perubahan ke arah yang lebih baik.

Namun, pada kesempatan ini, kita cukup diri melihat dua kekuatan utama yang sering diabaikan dalam proses mewujudkan perubahan. Yakni komitmen dan maksimalisasi modal social komunitas.

Komitmen Perubahan

Komitmen perubahan mencakup dua hal yakni komitmen untuk memulai dan komitmen untuk menjaga perubahan. Filosophi dasar perubahan adalah proses, lantaran itu dalam proses mewujudkan dan menjaga perubahan perlu dilandasi oleh komitmen yang kuat.

Tidak jarang, sebuah upaya pembangunan gagal dilaksanakan, atau kadang pula mandek di tengah perjalanan lantaran optimisme yang dibangun sejak awal tidak dibarengi dengan komitmen dan kemauan yang kuat.

Komitmen menjadi penting karena dia sesungguhnya adalah roh optimisme. Komitmen menuntut totalitas pribadi dan kelompok untuk selalu ulet dan tanpa pamrih mewujudkan perubahan. Komitmen memampukan pribadi dan kelompok untuk melihat tantangan dan hambatan, pun melihat alternatif dan peluang sebagai jalan menuju perubahan. Bukan sebaliknya meluluhkan semangat dan daya juang. Jika itu yang terjadi bukan tidak mungkin slogan lain seperti ‘hangat-hangat tahi ayam’ akan muncul.

Modal Sosial

Modal social yang dimaksudkan bukan hanya sekedar membangun bersama, bergandengan tangan dan intervensi semua pihak. Tetapi juga adalah maksimalisasi potensi dan kekayaan local (pribadi/komunitas). Kita sering menyebutnya sebagai kearifan local, di lain tempat menyebutnya sebagai potensi asali, dsb.

Terlepas dari semua nama itu, modal social merupakan kekuatan dasar yang perlu dimasimalkan, dari dan dalam segala bidang kehidupan. Dalam diri setiap individu dan juga dalam sebuah tubuh komunitas terkandung kekuatan alamiah yang potensial mendukung mewujudkan perubahan.

Persoalannya adalah apakah kita memiliki komitmen untuk mengeksplorasi semua kekuatan yang kita miliki atau tidak? Apakah kita bersedia mau berbagi energy positif itu atau tidak? Apakah kita rela dengan total memberikan kekayaan pengetahuan yang kita punyai atau tidak?

Jika komitmen, dan energy positif dalam diri kita masing-masing menjadi landasan optimisme dan kebersamaan dalam mendorong, mewujudkan dan menjaga perubahan, bukan mustahil, kita baik sebagai pribadi maupun sebagai suatu komunitas akan mengalami dan menikmati apa yang kita cita-citakan bersama.

Mari…tanpa ragu kita menyeberang menuju perubahan!

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: