Perempuan Laktutus

Belasan perempuan berjalan menyusuri jalan setapak pekarangan rumah, melewati sebuah tanggul penahan tanah kemudian berjalan menurun dengan beban ember di atas kepala dengan beragam ukuran. Ember tersebut terkadang berisi pasir, kerikil, batu bata, dan air. Terkadang tanpa menggunakan ember bila sedang memindahkan batu-batu alam. Tanpa kenal lelah mereka naik-turun menyusuri jalan setapak, keringat membanjir di wajah keras mereka. Sesekali mereka beristirahat dan membuka tas kecil/bungkusan plastik yang berisi lembaran daun-daun sirih, kepingan biji pinang dan wadah serbuk kapur. Meramu dan memasukan ke dalam mulut mereka. Dengan penuh nikmati mereka mengunyah ramuan sirih, pinang dan serbuk kapur tersebut seakan-akan seperti suplemen penambah tenaga bagi belasan perempuan tersebut. Kegiatan ini mereka lakukan setiap hari senin dan kamis setiap minggu.

Selama berabad-abad masyarakat telah membuat bangunan sosial bahwa perempuan adalah manusia yang lemah, cengeng, gemulai, hanya mengurusi rumah (baca : kasur, dapur dan sumur) dan masih banyak lagi karakter sosial yang ditandakan pada mereka. Dengan melihat fenomena ini seakan-akan bangunan sosial tersebut telah digugurkan oleh perempuan-perempuan Laktutus ini. Mereka mampu untuk memindahkan berpuluh kubik pasir, batu alam, kerikil, beribu keping batu bata, berliter-liter air dengan ember-ember hitam diletakan di atas kepala mereka. Mereka juga sudah berada di ranah publik yang selama ini hanya didominasi oleh laki-laki.

Perempuan sebenarnya bukan manusia lemah atau cengeng seperti yang selama ini telah terbangun di masyarakat. Mereka juga adalah manusia yang tangguh dalam menghadapi kerasnya hidup ini. Dan mereka juga mampu untuk melakukan kerjasama dengan laki-laki. Cuma terkadang mereka tidak mempunyai /terbatas akses/peluang untuk melakukannya. Terbatasnya akses/peluang ini karena adanya aturan atau norma yang ada di masyarakat yang selalu meminggirkan posisi perempuan. Contohnya adalah ketika laki-laki diberi simbol sebagai pencari nafkah dan perempuan yang mengurus rumah dan anak. Ketika perempuan yang keluar dari rumah dan mencari nafkah untuk keluarga dianggap telah menyalahi aturan/norma masyarkat. Celakanya lagi ketika nafkah yang dihasilkan oleh perempuan adalah “tambahan” dari nafkah yang dihasilkan oleh laki-laki sebagai pencari nafkah utama. Dan banyak lagi contoh lain yang sangat menyudutkan posisi perempuan.

Perempuan dan laki-laki adalah mahluk ciptaan Tuhan yang setara dan harapannya adalah adanya sebuah mitra/kerjasama antara laki-laki dan perempuan dalam menyelesaikan suatu hal baik dalam rumah tangga dan masyarakat. Ketidakadilan yang selama ini muncul dalam hubungan antara laki-laki dan perempuan semakin diminimalkan. Sehingga nantinya laki-laki dan perempuan bersatu untuk mencapai tujuan yang dicita-citakan bersama.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: