Lima Tahun Aceh Damai

Lima tahun sudah, sejak Nota Kesepahaman Damai antara RI dan GAM ditandatangani di Helsinki Finlandia, masyarakat Aceh hidup dalam damai.

Kendatipun masih ada riak-riak konflik pasca penandangatan kesepakatan damai, namun semuanya bisa diredam pertama-tama tentu saja bukan lantaran dikaburkan oleh euphoria damai, tetapi lebih karena kemauan dan tekad bulat masyarakat Aceh untuk menyudahi konflik dan lantas hidup tentram dan damai.

Ada beberapa catatan penting yang patut untuk diapreasi dari perjalanan damai lima tahun ini. Ada potensi dan kekuatan-kekuatan utama yang melanggengkan perdamaian.

Pertama, damai sesungguhnya adalah kebutuhan, bukan keinginan. Damai adalah kerinduan mendalam umat manusia, termasuk di dalamnya adalah masyarakat Aceh. Karena sebuah kerinduan mendalam, damai tidak sekedar menjadi keinginan semua orang tetapi menjadi sebuah kebutuhan hakiki yang harus dipenuhi.

Kedua, damai sebagai sebuah kebutuhan dapat ditelisik dalam fakta, bahwa untuk mencari makan dengan aman, berjalan malam tanpa rasa takut, bicara tanpa rasa curiga, ke sekolah tanpa cemas, ke ladang tanpa menengok ke kiri dan ke kanan sesungguhnya dibutuhkan suasana damai dan tenteram.

Ketiga, kebutuhan akan rasa aman dan hidup dalam damai inilah yang menjadi kekuatan utama masyarakat Aceh sepanjang perjalanan damai lima tahun ini.

Keempat, dan kebutuhan akan rasa aman dan hidup dalam damai ini pula yang membuat RI (Republik Indonesia) wajib mengayomi masyarakat Aceh dengan tanpa kekerasan.

Kelima, kebutuhan akan rasa aman dan hidup dalam damai harus didukung pula oleh kemauan dan kesungguhan untuk menjaga dan merawat. Menjaga dan merawat tidak melulu saling memenuhi kepentingan, tetapi juga perlu didukung oleh intervensi semua pihak.

Keenam, karena perdamaian bukan hanya milik elite politik, dan apalagi mereka yang pernah bertikai. Juga bukan hanya milik semua masyarakat Aceh dan Republik Indonesia, tetapi juga milik semua makluk hidup.

Ketujuh, dengan damai bukan hanya kita yang tidak lagi menumpahkan darah dan air mata, tetapi juga ekosistem kehidupan kembali normal. Burung kembali lelap dalam sarangnya, hutan kembali merimbunkan daunnya. Kupu-kupu kembali ke taman, pun bunga kembali mekarkan kuntumnya pada setiap musimnya.

*) Kris  Bheda Somerpes/SUNSPIRIT

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: