Hakawak, Budaya Gotong Royong Masyarakat Laktutus – NTT

Oleh John Pluto Sinulingga

Hakawak sebuah kata yang memang terasa asing dalam kosa kata kita. Namun pengertian dari hakawak ini tidak lain adalah gotong royong atau kalau masyarakat Belu, khususnya di wilayah Laktutus mengartikan ini sebagai kerja bergilir dari kebun ke kebun petani. Misalnya kebun A akan kerjakan secara bersama-sama dengan sesama petani lainnya. Demikian juga nantinya akan bergilir sampai semua petani yang tergabung dalam kelompok hakawak itu terkena giliran. Setelah selesai satu putaran maka akan dilanjutkan pada putaran berikutnya dan terus berulang-ulang. Adapun macam kegiatan yang dilakukan di kebun mulai dari kegiatan panen, tofa (membersihkan gulma), membuat terassering, bahkan sampai memikul hasil panen ke rumah petani. Pada prakteknya di lapangan  yang temui kegiatan hakawak ini tidak hanya dilakukan di dalam sebuah hamparan lahan pertanian tapi bisa juga dalam kegiatan membangun fondasi rumah, mengikat hasil panen jagung yang biasa dilakukan di rumah sang pemilik jagung.

Proses hakawak ini dilakukan melalui proses musyawarah petani. Dalam musyawarah tersebut diawali dengan penentuan anggota yang masuk dalam kelompok tersebut. Biasanya penentuan berdasarkan kedekatan tempat tinggal. Ini didasari kedekatan kekerabatan antara petani yang tergabung di dalamnya. Kemudian setelah penentuan anggota yang tergabung, dilanjutkan dengan penentuan kebun yang pertama kali yang akan dikerjakan bersama-sama. Penentuan kebun berikutnya dilakukan setelah kebun pertama selesai dilakukan hakawak. Demikian proses hakawak ini berjalan sampai nantinya semua petani yang tergabung mendapat giliran masing-masing. Namun terkadang ada juga pemilik kebun yang mengundang semua kelompok-kelompok yang ada di kampung untuk membantu pemilik kebun untuk menyelesaikan pekerjaannya; misalnya untuk mengangkut hasil panen dari kebun ke rumah. Kegiatan ini biasa di sebut ha tamaema, biasanya pada kegiatan ini pemilik kebun membunuh babi atau ayam sebagai hidangan makan siang kepada orang-orang yang diundang dan ditambah dengan ritual adat dan ucapan syukur kepada Sang Pencipta. Dengan harapan pada panen berikutnya akan lebih melimpah dari hasil panen sekarang.

Dari beberapa kali kegiatan hakawak yang penulis ikuti ada hal-hal menarik pada saat bersama-sama di satu hamparan kebun. Biasanya pada saat bekerja bersama, petani saling bercerita tentang hal-hal yang terjadi di keluarga, di desa dan ditambah dengan gurau-gurau kecil. Dan proses bekerja di kebun ini kadang diselingi dengan acara makan sirih dan bincang-bincang di tengah hamparan kebun. Istirahat ini biasanya dikomandoi oleh pemilik kebun. Pada saat tengah hari tua, semua kerja di kebun berhenti untuk istirahat dan berkumpul di pondok untuk makan. Masing-masing petani yang membawa bekal mulai membuka bawaannya dan meletakkan di atas tikar. Biasanya pemilik kebun juga menyediakan makanan untuk petani yang datang. Di atas tikar akan terlihat macam ragam makanan, mulai dari nasi putih, nasi yang dicampur jagung, nasi merah (hare metan) dan bose (sejenis makan makanan yang terdiri dari jagung dan campuran kacang-kacangan terkadang ditambah dengan santan kelapa). Sayur-sayuran yang diambil dari kebun tersebut dan lombok kecil yang digiling kasar disanding dengan garam dalam satu piring kecil. Hidangan sederhana namun suasana kebun dan kebersamaan yang membuat semua orang yang bekerja lahap untuk menyantap sajian yang terletak di atas tikar. Setelah selesai makan semua masih beristirahat, biasanya sampai jam 14.00 siang. Selanjutnya mulai lagi bekerja di hamparan kebun bersama-sama sampai jam 17.00 sore. Biasanya setelah selesai bekerja, pemilik kebun memberikan buah tangan kepada orang-orang yang bekerja dikebunnya. Buah tangan ini biasanya apa yang ada dikebunnya; misalnya buah labu kuning, kacang tanah, ubi kayu, daun singkong, lombok dan lain-lain. Kadang-kadang orang yang ikut bekerja mengambil sendiri. Demikian proses hakawak satu hari di satu kebun petani, hal ini akan berulang sama di kebun yang selanjutnya namun tergantung pada pekerjaan yang akan dilakukan.

Sepintas lalu memang kegiatan hakawak ini sudah hampir punah di Nusantara ini. Hantaman budaya induvidual yang berhembus dari barat mulai mengikis budaya solidaritas yang sebenarnya sudah ditanam dari leluhur bangsa ini dan oleh para pendiri bangsa ini. Budaya individual ini tidak hanya menghantam wilayah-wilayah perkotaan bahkan juga mulai menjajah wilayah pelosok sekalipun dengan bahasa-bahasa iklan yang terselebung bingkisan kebaikan. Bahasa-bahasa iklan yang hampir setiap saat terkumandang dari mulut-mulut yang tersuap oleh para pemilik modal dan kuasa dan mencuci otak hampir semua manusia untuk bertindak secara individual. Dan ini akan terus-menerus berkumandang dan menembus lorong-lorong yang terjauh dalam kumpulan manusia.

Ada beberapa pelajaran yang menarik yang dapat ditarik dari kegiatan hakawak ini. Solidaritas dari sesama masyarakat petani akan mempermudah, meringankan setiap kerja-kerja yang dilakukan. Dampak lain adalah semakin menambah semangat kerja dan semangat kekeluargaan. Apabila ini dikerjakan secara berkelanjutan maka akan menjadi sebuah gerakan besar untuk mengantisipasi gelombang-gelombang individualistis dalam komunitas pedesaan. Semoga………

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: