Ha Krau

Oleh John Pluto Sinulingga

Ha krau adalah satu kekayaan tradisional yang sampai sekarang ini masih dilakukan di wilayah Kabupaten Belu, khususnya di Laktutus. Tradisi ini merupakan warisan nenek moyang yang di bawa anak cucu mereka dan tetap lestari. Ha krau apabila diartikan secara biasa artinya makan kerbau. Satu ekor kerbau jantan besar yang dicancang/diikat dan siap untuk dibunuh dengan memenggal lehernya dengan parang yang sudah disiapkan khusus. Dan biasanya hasil penggalan tersebut akan memisahkan tubuh dengan kepala kerbau tersebut.

Menurut Bapak Balthasar atau biasa orang-orang memanggil Kabu Sar, ritual Ha Krau ini dilakukan untuk meresmikan rumah adat suku yang baru dibangun atau dengan bahasa lokalnya pendinginan rumah adat suku. Bisa juga dilakukan setelah selesai proses perbaikan rumah adat, khsusus apabila yang rusak dan diganti tiang utama yaitu : tiang Bei Mane, tiang Bei Feto dan tiang Kmanek Mesakh. Ha Krau ini harus dilakukan untuk menghindari kekacauan atau konflik yang terjadi dalam rumah adat tersebut.

Biasanya prosesi Ha Krau ini dilakukan pada saat penghujung acara peresmiaan rumat adat tersebut (acara puncak). Sebelum prosesi Ha Krau dilakukan, biasanya dilakukan kegiatan yang bersifat hiburan, misalnya tebe-tebe (bernyanyi sambil bergandengan tangan dengan membentuk lingkaran), likurai (tarian yang biasanya didominasi oleh perempuan dengan iringan tihar – sejenis alat musik pukul yang digantung di pundak dan dijepit di bagian ketiak), dan dilengkapi dengan hidangan. Bapak yang mempunyai anak 3 orang ini melanjutkan bahwa apabila prosesi Ha Krau sudah dilakukan maka acara hiburan tidak boleh dilakukan lagi.

Nah, kita mungkin akan bertanya siapa yang melakukan pemenggal kerbau tersebut. Apakah boleh orang kebanyakan atau hanya orang khusus. Bapak yang masuk legiun veteran ’75 mengatakan bahwa yang boleh melakukan Ha Krau adalah orang berani atau orang yang melindungi (bahasa tetunnya Meo). Dia mencontohkan, apabila Suku Akas meresmikan rumah adat baru maka yang bisa melakukan Ha Krau (Meo-nya) adalah Suku Talla dan demikian juga sebaliknya. Dan  bisa juga oleh orang yang berada dalam satu suku sendiri, misalnya Lahoan Bei Ikun meresmikan rumah adat baru maka prosesi pemenggalan kerbau dapat dilakukan oleh orang dari Suku Lahoan Bei Larang. Bapak yang ditemani oleh seorang Istri setianya Mama Wilhelmina Anok ini melanjutkan bahwa kerbau yang dibunuh/dipenggal tersebut akan diserahkan kepada Meo tersebut sebagai satu bentuk penghargaan sedangkan tuan rumah dan para undangan disediakan kerbau atau sapi lain.

Biasanya juga, Dia menyambung prosesi Ha Krau ini selalu diiringi dengan tarian Likurai. Fungsi iringan tari Likurai ini untuk memberi semangat dan kekuatan Sang Meo untuk melakukan pemenggalan nantinya. Suara-suara tihar yang dipukul oleh beberapa penari perempuan tersebut juga berfungsi untuk meminta/mohon tenaga kekuatan dari Sang Pencipta. Kabu Sar ini bercerita bahwa sebelum prosesi ini dilakukan harus doa agama dahulu kemudian dilanjutkan dengan doa adat. Menurut pengakuannya, Dia biasanya sebelum berdoa Bapa Kami kemudian dilanjut dengan doa adat. Ada lagi yang tidak boleh ketinggalan, menurut dia Sirih dan pinang juga menjadi syarat yang harus ada selain parang yang harus disiapkan oleh tuan rumah sendiri untuk memenggal kerbau jantan nantinya. Sirih pinang ini yang akan diusap-usapkan ke tubuh kerbau tersebut disertai doa adat oleh Sang Tetua Adat. Di akhir cerita Kabu Sar mengatakan setelah pemenggalan dilakukan dan kerbau telah mati maka tihar diletakkan di samping kerbau menandakan prosesi telah selesai dan selanjutnya dibawa oleh Meo untuk dipotong-potong dan disantap.

Ini merupakan salah satu budaya yang ada di Laktutus harapan Kabu Sar, bahwa budaya ini tidak akan punah ditelan massa dan akan terus hidup sampai anak cucu. Semoga………………………

Hasil Wawancara dengan Bapak Balthasar Mali.

1 Comment (+add yours?)

  1. tagesgeldvergleich
    Nov 19, 2010 @ 07:58:14

    Of course, what a great site and informative posts, I will add backlink – bookmark this site? Regards,
    Reader.

    Reply

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: