Proficiat Petani Bangsaku…

Oleh John Pluto Sunulingga

Saat ini kita mendengar bahwa yang memang kendali ketersediaan pangan adalah pasar. Sepintas bahwa ada anggapan bahwa pasar akan menjamin dan mengontrol peredaran pangan, namun selama itu pula kita sering dihadapkan dengan masalah ketersediaan pangan. Pangan selalu dikontrol oleh mereka yang mempunyai modal.

Sejak tahun 1990 Indonesia mencoba untuk mengikuti nasehat dari pakar-pakar perdagangan pangan internasional yang menganjurkan bahwa dengan mengimpor pangan akan lebih menguntungkan dan lebih efesien dari pada memproduksi sendiri. Sehingga dalam tahun-tahun berikutnya peredaran pangan impor hampir memenuhi pasar-pasar Indonesia, mulai dari beras, gula, jagung, tepung terigu dan kedelai.

Dampak dari keberadaan pangan impor ini mengakibatkan terjadi persaingan yang sangat hebat. Namun keberadaan pangan dalam negeri tertekan karena harga komoditas pangan luar negeri lebih murah dibanding dengan pangan yang dihasilkan oleh petani Indonesia. Kalau ditelaah lebih dalam, sebenarnya persoalannya bukan pada harga komoditas, namun adalah kemampuan rakyat (baca; petani) dalam memberdayakan diri sendiri. Dengan bekerja petani dapat memproduksi pangan (peluang untuk kerja) dan dengan memproses, mengangkut dan memasarkan di wilayah mereka  berarti ada usaha lain yang dapat dilakukan. Dari sini dapat disimpulkan bahwa dengan memproduksi, memproses, mengangkut dan memasarkan akan ada pendapatan untuk memenuhi kebutuhan pangan dan kebutuhan non-pangan lainnya. Atau bisa dikatakan secara bersama-sama menaikan martabat petani dan bangsa dan juga menghasilkan pendapatan. Pendapatan inilah nantinya menjadi jaminan untuk dapat membeli, sekali pun itu pangan impor.

Petani yang terpuruk karena hasil panen tergusur oleh pangan impor. Harga bahan pangan yang mereka produksi tidak bisa meghasilkan keuntungan yang memadai. Alhasil pada saat mereka akan melakukan usaha produksi lagi modal usaha tidak mencukupi. Alternatif lain yang mereka lakukan adalah meminjam modal kepada rentenir dengan bunga yang tinggi. Atau bisa pula dengan menggadaikan tanah garapan mereka kepada para pemodal dengan resiko apabila suatu saat tidak mampu untuk mengembalikan pinjaman maka tanah akan berpindah tangan. Lingkaran ini akan terus berputar-putar (baca : lingkaran setan) yang tidak akan putus-putus. Uraian di atas bila dilihat dari sisi alat produksi. Kalau menelaah lagi dari sisi konsumsi keseharian, kebutuhan pangan tidak akan terpenuhi baik dari segi kuantitas dan kualitasnya. Akibatnya ada banyak kasus-kasus gizi buruk yang muncul bagi balita-balita yang notabene merupakan generasi penerus bangsa ini. Dan bila ini juga terkena pada orang dewasa maka produktivitasnya juga akan berkurang.

Berita-berita di media masa tentang banyak orang dari pedesaan yang melakukan migrasi ke luar bahkan ke negeri seberang adalah karena mereka tidak berdaya lagi dalam pemenuhan kebutuhan pangan dan non-pangan mereka dan tidak ada akses untuk menciptakan  peluang kerja lain.

Sebenarnya pangan tidak boleh hanya dihubungakan dengan harga, efesiensi dan kehemataan. Tapi berbicara tentang pangan harus menyeluruh karena ini menyangkut harga diri bangsa, khususnya para produsen pangan di pedesaan yang setiap hari harus bekerja keras untuk menyediakan pangan berkualitas bagi anak bangsa ini dan generasi penerusnya.

Mungkin akan semakin jelas apabila kita membandingkan isi dari Ensiklik John Paul II, Laborem Exercens, kerja juga mempunyai akibat status sosial. Orang yang tidak bekerja, betapapun bila bekerja upahnya amat rendah, adalah orang yang secara psikologis sosial merasa dan dipandang kurang berharkat. Semuanya itu akan mengkondisikan manusia dalam situasi yang tidak berdaya total yang mengancam keberlanjutan generasi bangsa.

Proficiat Petani bangsaku……..

Proficiat Petani Perempuanku yang telah memberi makan dunia………………….

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: