KABAR TIMOR

Usaha Masyarakat Nanaet Duabesi Membangun Diri

Picture7

Data resmi pemerintah menunjukkan bahwa NTT merupakan salah satu dari 7 provinsi termiskin di Indonesia, bersama dengan Papua, Papua Barat, Maluku, Gorontalo, Aceh, dan NTB.

Mengapa kita miskin? Bagaimana cara untuk keluar dari bahaya kemiskinan itu?

Dua pertanyaan itu menggerakkan Tim SUNSPIRIT di Timor dan masyarakat dampingan mereka di Kecamatan Nanaet Duabesi, Belu, NTT. Kami yakin bahwa lewat usaha yang serius dan terus-menerus, kemiskinan itu dapat diatasi.

Dengan keyakinan itu, kita merintis beberapa kegiatan bersama dengan kelompok dampingan. Untuk tahap pertama ini, sedang dibangun sebuah lahan contoh pertanian organik terpadu seluas 6 hektar. Sampai akhir April, satu hektar tanah telah diolah dalam bentuk terasering untuk budidaya berbagai jenis tanaman organik. Menurut rencana, pada kebun yang sama akan dibangun kandang ternak, biogas, dan rumah belajar.

Sampai pada tahap ini, kita baru melakukan persiapan lahan, mengingat saat ini merupakan puncak musim kemarau. Mudah-mudahan, pada awal musim hujan nanti, kebun ini sudah mulai ditanami dan menjadi pusat kebun organik yang baik.

Selain kebun contoh, saat ini kita sedang mengusahakan pengadaan sumur bor dalam kerjasama dengan berbagai pihak. Bersama masyarakat, kita juga mengantisipasi krisis pangan dengan sebuah program “bekerja untuk karbohidrat dan protein”. Keluarga-keluarga yang bekerja di kebun contoh mendapat beras, kacang-kacangan dan telur/ikan untuk kecukupan makanan keluarga mereka.

Untuk pemberdayaan jangka panjang, kita mengadakan aneka pelatihan dan pengorganisasian diri komunitas. Selain itu, sedang diusahakan sebuah program beasiswa bagi putera-puteri daerah ini, untuk menjadi kader pemimpin komunitas mereka di masa depan.

Kita berharap, bahwa masyarakat di wilayah ini tetap bersemangat membangun diri mereka sendiri, dan menjauhi mentalitas “bergantung pada bantuan”. Selain itu, kita harapkan Pemerintah lebih memperhatikan daerah ini dalam program pembangunan yang sungguh-sungguh dan sesuai dengan kebutuhan masyarakat.

Mudah-mudahan, di Belu dan di NTT umumnya kemiskinan dapat segera diatasi, dan tidak menjadi nasib yang abadi. (KK)

BAKUPEDULI: Usaha Bersama Merevisi Masa Depan

Picture9

Pendidikan merupakan jalan menuju masa depan yang lebih baik!

Sadar akan hal itu, Pater Save Adir OFM bersama dengan Tim SUNSPIRIT Timor berusaha untuk mencari jalan untuk meningkatkan pendidikan di wilayah pelayanan mereka di Kecamatan Nanaet Duabesi, Kabupaten Belu, NTT.

Langkah pertama yang mereka lakukan adalah dengan mempersiapkan sumber daya manusia untuk menjadi guru dan kader perubahan sosial yang mampu membangun daerah ini.

Usaha itu ternyata mendapat dukungan dari banyak pihak. Universitas Sanata Dharma di Yogyakarta, bersedia menerima 10 orang putera-puteri asal Kecamatan Nanaet Duabesi ini untuk belajar di Fakultas Keguruan dan Ilmu Pendidikan (PKIP). Sebagai bagian dari kepedulian sosial mereka, Universitas Sanata Dharma membantu biaya kuliah sebesar 50%.

Bagaimana cara mendapat sisa biaya kuliah dan biaya hidup dari para calon guru dan pemimpin masyarakat ini?

SUNSPIRIT merancang sebuah program beasiswa publik yang diberi nama BAKUPEDULI yaitu sebuah program beasiswa swadaya bersama untuk pendidikan dan perubahan sosial di Indonesia Timur.

Pada intinya, program ini berusaha menggalang dukungan dari berbagai pihak, pribadi maupun lembaga, yang berasal dari Indonesia Timur maupun yang peduli Indonesia Timur untuk ikut mendukung program beasiswa bagi putera-puteri dari pedalaman Indonesia Timur untuk menjadi kader perubahan sosial di komunitas mereka masing-masing.

Berawal dari Belu, NTT, kita berharap program ini akan berkembang, menjangkau daerah-daerah lain di Indonesia Timur. Kita bersama-sama yakin bahwa pendidikan yang bermutu merupakan kunci bagi kemajuan Indonesia Timur. Dan hanya dengan Kepedulian Bersama, kita dapat membuka jalan bagi putera-puteri terbaik Indonesia Timur untuk mendapat pendidikan yang layak dan siap membangun daerah mereka.

Mudah-mudahan, BAKUPEDULI menjadi usaha kita bersama untuk  merevisi masa depan menjadi lebih adil, sejahtera, dan damai.

(http://bakupeduli.wordpress.com.)

Aer Su’ Dekat?

Picture28

Kata-kata dengan dialek  khas Indonesia Timur  itu  kini dikenal di seluruh nusantara, “berkat”  iklan sebuah perusahaan multinasional  yang menguasai bisnis air kemasan di tanah air. Orang yang tidak mudah dimakan propaganda tahu bahwa iklan itu “cenderung menipu” karena mereka hanya membantu di beberapa desa, tetapi memberi kesan bahwa untuk semua desa masalah air sudah diatasi.  Bagi sebagian orang di antara kita, iklan itu “keterlaluan”: jumlah dana yang mereka keluarkan untuk membantu masyarakat jauh lebih sedikit dari biaya yang mereka habiskan untuk iklan.

Akhir Maret lalu saya dan Tamara dari SUNSPIRIT FOR JUSTICE AND PEACE berkesempatan mengunjungi Kabupaten Belu, Nusa Tenggara Timur. Bagi saudara-saudari yang belum tahu peta negeri yang luas ini, Belu adalah kabupaten di NTT di perbatasan Indonesia dan negara sahabat kita, Timor Leste. Dalam perjalanan mengunjungi beberapa desa di puncak gunung Laktutus, mobil TAFT keluaran tahun 70-an yang kami tumpangi mogok, persis di sebuah tanjakan panjang. Setelah dicek, ternyata air karburatornya habis. Kami butuh air!

Untunglah sekitar 200 meter dari tempat itu ada rumah penduduk. Kami datang ke salah satu rumah untuk meminta air, walau dalam hati kami amat ragu. Ini adalah awal musim kemarau, yang akan berlangsung sampai 8-9 bulan mendatang. Kami tahu, air adalah harta berharga bagi keluarga itu.

Dengan menekan rasa serba salah, Risza Lopes, sahabat kami dari SUNSPIRIT Timor, menjelaskan masalah kami dan minta air. Dengan keramahan khas komunitas desa yang terungkap dalam senyum yang alami, seorang Mama mengatakan Iya, masuk ke dapur, lalu keluar bersama puterinya yang kira-kira berumur 10 tahun dan membawa sejerigen air.

Saya dipercayakan untuk memindahkan air dari jerigen itu ke botol air kemasan yang kami bawa, dengan pesan “jangan sampai tumpah sedikit pun”.

Saya baru hendak mengisi botol kedua, ketika Risza, yang mungkin karena ingin berbasa-basi membalas budibaik keluarga itu, bertanya, “Mama, sumber airnya jauh, kah?”

Dengan ramah Mama itu menjawab, “Tidak jauh, Ibu, di bawa lembah sana”, sambil menunjuk ke arah lembah. Tanpa sadar mata saya mengikuti arah tangan  Mama itu, dan spontan berhenti menuangkan air. Betapa jauhnya mereka mengambil air itu, berapa tenaga yang dihabiskan, betapa berharganya air itu untuk mereka. Dengan iklas mereka menyerahkan air itu kepada kami, orang-orang yang melintas dengan mobil, yang mungkin tidak pernah tahu dan merasakan sulitnya mendapatkan setetes air.

Setiba di puncak Laktutus, kami mengunjungi lokasi kebun contoh organik yang sedang dibangun oleh kelompok tani dari komunitas setempat. Sekitar delapan orang, 4 di antaranya Ibu, sedang mencangkul tanah, membangun terasering tempat mereka akan membuat bedeng untuk kebun organik. Tanah yang keras membutuhkan tenaga untuk menggalinya. Saya tidak bisa banyak berkata-kata melihat usaha dan keseriusan komunitas ini.

Seakan paham apa yang sedang berkecamuk dalam benak saya, Tommy  Saleh— sahabat yang pernah berjuang bersama di Aceh dan kini merintis kerja baru di Timor— berbisik, “kita harus cari jalan bersama masyarakat untuk segera mendatangkan air”. Pater Save, yang sudah lama bergulat dengan kesulitan hidup masyarakat Laktutus juga menambahkan bahwa “air salah satu prioritas kebutuhan masyarakat”.

Begitulah dalam hari-hari kebersamaan di komunitas ini kami berbicara dengan beberapa tokoh masyarakat bagaimana cara mendatangkan air. Masyarakat bercerita bahwa mereka telah berusaha menanam pohon. Kami kemudian mengunjungi sumber air dan menyimpulkan bahwa dapat digali sebuah sumur bor dan mengalirkannya ke pemukiman. Masalahnya, dibutuhkan dana  lebih dari 100 juta untuk membuat sumur bor dan instalasi pipa.

Walau terasa sulit, semangat saya berkobar-kobar melihat tekad masyarakat untuk bekerja secara swadaya. Komunitas menyanggupi 30% swadaya dalam bentuk material lokal dan tenaga. Kami diberi mandat untuk mengupayakan sisanya.

Saya kemudian menulis sebuah surat ke sejumlah mailing list: mencari info tentang jasa pembuatan sumur bor di Timor, berapa biaya, dan apakah ada yang bisa membantu. Dalam waktu singkat, muncul berbagai tanggapan. Di antaranya dari rekan Herman Seran, yang segera menghubungi jejaringnya di Universitas di Kupang dan jaringan lain yang mungkin bisa membantu. Akhir Mei ini, saya mendapat kabar pihak universitas itu bersedia membantu pengeboran.  Belakangan, mitra kerja kami, CCFD dari Perancis pun ikut  berkontribusi.

Dengan pengalaman ini, dan banyak pengalaman kerja bersama komunitas sebelumnya, saya jadi makin yakin bahwa  aneka kesulitan bisa kita atasi andai ada tekad dan swadaya dari masyarakat untuk mencari jalan keluar, serta ada pihak lain yang peduli dan bersedia membantu.

Saat ini kami sedang menanti dimulainya usaha bersama ini.  Mudah-mudahan dalam waktu yang tidak terlalu lama,  bagi masyarakat Laktutus pun, air tidak lagi jauh.

[Cypri Jehan Paju Dale]

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: