GAGASAN ALTERNATIF

Reforma Agraria Sebagai Salah Satu Syarat

Kedaulatan Pangan

John Pluto Sinulingga

Copy (2) of S7302734

Bila kita melihat akhir-akhir ini permasalahan reforma agraria (terutama tanah) selalu menjadi perhatian pemilik modal. Apalagi dengan semakin terbukanya pintu investasi di Aceh, banyak investor yang berlomba-lomba untuk menanamkan modal dengan menguasai tanah untuk perkebunan dan tambang. Fenomena ini jelas akan semakin mengurangi penguasaan tanah oleh rakyat bahkan rakyat sendiri akan dipinggirkan.

Selanjutnya lahan yang telah dikuasai pemodal bukan dijadikan sebagai penopang kebutuhan pangan rakyat melainkan dijadikan lahan perkebunan dengan tanaman yang berorientasi pasar (monoculture) seperti sawit, kakao, jarak (terutama tanaman yang menghasilkan biofuel) yang akan mengeser tanaman pangan secara perlahan-lahan. Belum lagi lahan produktif yang dikonversi menjadi areal pertambangan dan pembangunan infrastruktur. Lantaran itu petani yang tidak mempunyai lagi alat produksi terpaksa harus membeli untuk mencukupi ketersediaan pangan mereka.

Masalah pangan sebenarnya bukan hanya masalah makan kenyang tetapi masalah bagaimana sebuah komunitas dapat berdaya. Komunitas atau bangsa yang dapat memproduksi kebutuhannya sendiri. Bayangkan kalau tidak ada pangan, apa yang akan terjadi pada komunitas atau bangsa tersebut. Tahapan awalnya  akan terjadi perubahan bahan makanan (pangan impor seperti gandum). Ini juga tidak akan bertahan lama karena apabila pasar makanan sudah dikuasai secara tidak langsung karena semua akan dikendalikan oleh produsen, baik harga maupun ketersediannya (baca: perusahaan pembuat makanan atau negara pemasok makanan).

Selanjutnya apabila harga semakin tinggi dselain akan menimbulkan  ketergantungan, juga akan menyebabkan  perubahan jumlah makanan dan yang dimakan. Ini disebabkan daya beli komunitas semakin rendah terhadap pangan selain mereka sendiri sudah terpuruk dalam perekonomiannya. Ujung dari kondisi ini adalah bencana kelaparan. Dan akibat yang memang tidak kelihatan adalah punahnya generasi (anak-anak) yang akan datang karena tidak mendapat asupan gizi atau sakit dan meninggal karena kelaparan.

Mungkin tidak berlebihan jika ada sebuah ungkapan mengatakan bahwa “siapa menguasai tanah maka akan menguasai pangan”. Pemodal yang menguasai tanah akan dapat menyediakan pangan untuk dirinya sendiri, walaupun pada tanahnya tidak ditanam dengan tanaman pangan. Namun dengan hasil invesatasinya pemodal yang mempunyai kemampuan membeli pangan sesuai dengan keinginannya. Petani, dan buruh tani yang tidak memiliki akses penguasaan tanah tentu akan berat sekali sulit memenuhi kebutuhan pangannya.

Selain harus memenuhi input usaha tani mereka yang butuh biaya besar dengan asupan seperti pupuk kimia, pestisida dan benih yang semakin lama harganya semakin melangit. Ditambah harga jual hasil produksinya tidak dihargai dengan layak oleh konsumen. Maka petani akan semakin terpuruk.

Gunawan Wiradi (Basis edisi Mei-Juni 2008) menjelaskan, Reforma Agraria didefenisikan sebagai penataan kembali (penataan ulang) susunan kepemilikan, penguasaan, dan penggunaan sumber-sumber agraria (terutama tanah), untuk kepentingan rakyat kecil (petani, buruh tani dan lain-lainnya), secara menyeluruh dan komprehensif (lengkap).

Jika melihat kondisi sekarang ini dimana aliran modal yang semakin besar masuk ke Aceh, maka ada baiknya untuk menata ulang kembali kepemilikan, penguasaan dan penggunaan sumber-sumber daya agraria (terutama tanah).

Dengan penataan ini diharapkan petani, buruh tani dan kelompok masyarakat miskin memiliki akses dalam kepemilikan tanah. Kemudian pertanyaan selanjutnya apakah dengan reforma agraria semua persoalan akan menjadi selesai? Setelah reforma agraria, tahapan selanjutnya adalah bagaimana dengan reforma agraria itu menjadi berhasil dan menjamin kesejahteraan  rakyat.

Lebih jauh Gunawan Wiradi menjelaskan yang dimaksud dengan menyeluruh dan komprehensif : 1) sasaran bukan hanya tanah pertanian, tetapi juga tanah-tanah perkebunan, pertambangan, pengairan, kelautan, dan lain-lainnya. Pendek kata, semua sumber agraria. Tentunya termasuk hak atas air, proteksi dari perubahan iklim dan keanekaragaman hayati. 2) Program reforma agraria (dan sumber-sumber lainnya) harus disertai dengan program-program penunjangnya, seperti penyuluhan dan pendidikan tentang teknologi produksi, program perkreditan, pemasaran dan lain sebagainya.

Dengan demikian mereka juga dapat mulai menata dalam memenuhi kebutuhan pangan sendiri. Dari sinilah yang mau dikatakan kedaulatan pangan ada ditangan rakyat. Ketika rakyat sudah mampu menghasilkan pangan sendiri terutama untuk keluarga dan ditopang dengan sokongan berbagai program pendampingan rakyat untuk untuk dapat berdiri sendiri.  Ketika rakyat sudah berdaulat dalam pangan saja secara jelas kelihatan bahwa bangsa pun tidak akan menjadi loyo.

Di dalam laporan PBB tentang hak atas pangan yang disusun oleh Komisi Hak Azasi Manusia PBB pada bulan Februari 2004, Kedaulatan pangan merupakan hak rakyat, komunitas-komunitas dan negeri-negeri untuk menentukan sistem-sistem produksinya sendiri dalam lapangan pertanian, perikanan, pangan dan tanah, serta kebijakan-kebijakan lainnya yang secara ekologi, sosial, ekonomi dan kebudayaan sesuai dengan keadaaan-keadaan khusus (keunikan) masing-masing. Pendek kata pangan merupakan hak asasi manusia dan idealnya tidak menjadi barang dagangan.

* Koordinator Aliansi Pertanian Organik Menuju Kedaulatan Pangan.

Sistem Pertanian Organik Terpadu

Picture10

Pola integrasi antara tanaman dan ternak atau yang sering kita sebut dengan pertanian terpadu, adalah memadukan antara kegiatan peternakan dan pertanian. Pola ini sangatlah menunjang dalam penyediaan pupuk kandang dilahan pertanian, sehingga pola ini sering disebut pola peternakan tanpa limbah karena limbah peternakan digunakan untuk pupuk, dan limbah pertanian untuk makan ternak. Integrasi hewan ternak dan tanaman dimaksudkan untuk memperoleh  hasil usaha yang optimal, dan dalam rangka memperbaiki kondisi kesuburan tanah. Interaksi antara ternak dan tanaman haruslah  saling melengkapi, mendukung dan saling menguntungkan, sehingga dapat mendorong peningkatan efisiensi produksi  dan meningkatkan keuntungan hasil usaha taninya.

Sistem produksi ternak sapi, misalnya yang dikombinasi dengan lahan-lahan pertanian hendaknya dapat disesuaikan dengan jenis tanaman pangan yang diusahakan. Hendaknya ternak yang kita pelihara tidak menggangu tanamanyang kita usahakan, bahkan mendukung.  Dalam hal ini tanaman pangan Picture11sebagai komponen utamanya dan ternak menjadi komponen keduanya.

Konsep pertanian terpadu ini perlu kita galakan, mengingat sistem ini di samping menunjang pola pertanian organik yang ramah lingkungan, juga mampu meningkatkan usaha peternakan. Komoditas sapi merupakan salah satu komoditas yang penting yang harus terus ditingkatkan. Oleh karena itu upaya ini dapat digalakan pada tingkat petani baik dalam rangka penggemukan ataupun dalam perbanyakan populasi. Dengan meningkatnya populasi ternak sapi akan mampu menjamin ketersediaan pupuk kandang di lahan pertanian. Sehingga program pertanian organik dapat terlaksana dengan baik, kesuburan tanah dapat terjaga, dan pertanian bisa berkelanjutan.

Sebenarnya integrasi ternak dan tanaman ini tidak terbatas pada budidaya tanaman padi dengan sapi saja, namun juga dapat dikembangkan integrasi dalam sistem lahan kering dan perkebunan. Semuanya tergantung dari usaha pertanian yang dikembangkan setempat, sehingga limbah pertaniannya dapat bervriasi seperti misalnya limbah jerami padi dilahan sawah dan limbah jerami jagung dilahan kering, bahkan di Brebes limbah tanaman bawang merah pun dapat digunakan untuk pengembangan ternak.

Sistem tumpangsari tanaman dan ternak banyak juga dipraktekkan di daerah  perkebunan.  Tujuan sistem ini adalah untuk pemanfaatan lahan secara optimal.  Di dalam sistem tumpangsari ini tanaman perkebunan sebagai komponen utama dan tanaman rumput dan ternak yang merumput di atasnya merupakan komponen kedua.  Keuntungan-keuntungan dari sistem ini antara lain :

(1) Dari tanaman perkebunannya dapat menjamin tersedianya tanaman peneduh bagi ternak, sehingga dapat mengurangi stress karena panas, (2) meningkatkan kesuburan tanah melalui proses kembaliya air seni dan kotoran padatan ke dalam tanah, (3) meningkatkan kualitas pakan ternak, serta membatasi pertumbuhan gulma, (5) meningkatkan hasil tanaman perkebunan dan (6) meningkatkan keuntungan ekonomis termasuk hasil ternaknya.

Sebenarnya sistem pertanian terpadu ini tidak terbatas pada pengusahaan hewan besar saja seperti sapi dan kerbau, namun juga dapat dintegrasikan antara ternak unggas dengan tanaman pangan, hotikultura. Kotoran unggas cukup potensial dimanfaatkan sebagai pupuk.

(Disarikan oleh Ismail dari tulisan Prof. Dr. Ir. H. Sutoro Wongso Atmojo, MS.  Yang berjudul ”Pertanian Organik, Integrasi Ternak dan Tanaman”  SOLO POS, 7 Maret 2008)

Bangun Kemandirian Energi dengan Biogas

Lebih baik menyalakan sebatang lilin daripada mengeluh dalam kegelapan. Daripada putus asa menanti pelayanan listrik dan bahan bakar yang memadai dari negara, lebih baik mengembangkan energi alternatif biogas.
Semangat kemandirian itu mendari latar belakang usaha membangun teknologi tepat guna biogas di banyak tempat sekarang ini, baik di kota maupun pedesaan. Biogas merupakan teknologi tepat guna mengolah limbah organik (terutama kotoran ternak, limbah manusia, limbah pertanian) menjadi gas methana yang dapat berfungsi sebagai bahan bakar dan pembangkit tenaga listrik.

Cara kerja biogas tidak rumit. Limbah organik dialirkan ke dalam tabung tertutup yang disebut reaktor biogas atau digester (bisa terbuat dari kontruksi permanen dari semen atau dari plastik) dan dicampur dengan air. Dalam waktu beberapa hari, bakteri anaerobik akan mengurai limbah yang ada (fermentasi) sehingga menghasilkan gas, termasuk gas methana yang sama seperti gas yang dihasilkan pertamina. Gas ini kemudian disalurkan melalui pipa gas untuk disaring. Setelah bersih, gas methana ini dapat dipakai untuk bahan bakar atau pembangkit tenaga listrik.

Teknologi biogas dapat diterapkan untuk skala kecil (rumah tangga) maupun skala besar. Sebagai gambaran, kebutuhan memasak satu sebuah keluarga dapat dipenuhi dengan bahan baku kandang 2-4 ekor sapi. Hasilnya bukan hanya gas saja, tetapi juga pupuk dari endapan limbah organik yang telah menghasilkan gas. Teknologi ini juga mendukung pelestarian alam, karena menghasilkan energi alternatif, tidak mencemarkan lingkungan, dan mengurangi pengrusakan lingkungan dari pemanfaatan bahan bakar minyak.

Walaupun sederhana, pengembangan teknologi biogas membutuhkan ketekunan dan keseriusan kita untuk merawat dan untuk terus-menerus mencoba.

Mari kita bangun kemandirian energi dengan mengembangkan biogas di komunitas-komunitas kita (Cypri/KK)


Pertanian Organik Menuju Kedaulatan Pangan

Pembangunan sektor pertanian sebagai basis kekuatan ekonomi masyarakat di kabupaten Aceh Barat secara umum belum berjalan seimbang dibandingkan dengan pembangunan sektor-sektor lainnya, terutama dalam hal ketersediaan infrastruktur pendukung. Hal ini adalah persoalan tersendiri yang dihadapi oleh masyarakat dan pemerintah Kabupaten Aceh Barat.

Pembangunan pertanian yang berlangsung selama ini belum berjalan seimbang antara luas lahan dan potensi lahan dengan ketersediaan infrastruktur dan sarana pendukung, sehingga menjadi persoalan bagi masyarakat dan daerah untuk mendorong investasi dan pembangunan pertanian di Aceh Barat.

Meskipun banyak bantuan uang mengalir ke Aceh khususnya ke kabupaten Bceh Barat, namun belum mampu memberikan dampak yang signifikan bagi pembangunan di sektor pertanian. Sejumnlah lahan dan potensi lahan yang  tidak difungsikan secara optimal, infrastruktur pertanian yang terbatas dan banyak  yang rusak akibat konflik dan bencana, kegiatan pertanian menurun drastis, masyarakat beralih usaha pada sektor lain di luar sektor pertanian sehingga sumber daya pertanian tidak bergerak maju dan terus mengalami kemunduran.

Lantaran itu alternatif perbaikan di sektor pertanian yang sementara ini sedang gencar diperjuangkan di kalangan aktivis pertanian di Aceh Barat adalah memberdayakan sistem pertanian organik. Hal ini perlu ditunjang dengan beberapa hal berikut ini:

di level petani. Kapasitas sumber daya manusia petani memang harus diprioritaskan. Artinya pengatahuan dan keterampilan petani harus lebih ditingkatkan guna mendukung perkembangan pertanian organik. Untuk itu perlu mendapat dukungan dari berbagai pihak baik dari petani itu sendiri, juga dari berbagai pihak yang concern dan secara serius ingin mengembangkan pertanian organik.

Kedua, di Level Lembaga Swadaya Masyarakat. Lembaga Swadaya Masyarakat mempunyai peranan penting untuk mengembangkan pertanian organik yang berkelanjutan. Lantaran itu berbagai implemantasi program yang dilakukan berbagai lembaga swadaya masyarakat yang ada di Aceh Barat harusnya lebih diprioritaskan kepada kebutuhan ekonomi masyarakat. Rehabilitasi dan rekonsiliasi  sudah selesai, sekarang yang perlu dipikirkan adalah membangun kapasitas manusia, membangun pemahaman dan wawasan perihal pembangunan di sektor pertanian dan ekonomi.

Ketiga, di level Pembuat Kebijakan/Pemerintah. Pemerintah Aceh Barat hendaknya mendukung perkembangan pertanian oragnik secara serius, bukan hanya dalam kebijakan-kebijakan yang mampu mengakomodir kebutuhan perkembangan petani. Tetapi juga memasukkan anggaran khusus ke dalam setiap Anggaran Pembelanjaan Daerah secara konsisten.

Keempat, di level akademisi dan basis-basis pendidikan/kampus. Kaum akademisi seperti dosen dan mahasiswa hendaknya menjadikan pertanian organik sebagai sebuah kurikulum pembelajaran di fakultas pertanian.

Kelima, di level pebisnis Pebisnis dan wirausahawan. Mereka harus mendukung perkembangan pertanian organik dengan menyediakan fasilitas dan prasarana juga pasar yang mendukung untuk pemasaran produk dan hasil pengolahan pertanian organik (Ismail/KK).


KOPERASI Untuk Pengembangan Modal Usaha Kecil

picture3Menurut Undang-undang No. 25 tahun 1992 Pasal 4 dijelaskan bahwa fungsi dan peran koperasi sebagai berikut:

Pertama, membangun dan mengembangkan potensi dan kemampuan ekonomi anggota pada khususnya dan masyarakat pada umumnya untuk meningkatkan kesejahteraan ekonomi dan sosial. Kedua, berperan serta secara aktif dalam upaya mempertinggi kualitas kehidupan manusia dan masyarakat.

Ketiga, memperkokoh perekonomian masyarakat sebagai dasar kekuatan dan ketahanan perekonomian nasional dengan koperasi sebagai soko-gurunya. Keempat, berusaha untuk mewujudkan dan mengembangkan perekonomian nasional, yang merupakan usaha bersama berdasarkan atas asas kekeluargaan dan demokrasi ekonomi.

Berangkat dari latar belakang di atas Jaringan Perempuan SAKINAH (JPS), yang sudah tiga tahun didirikan menganggap penting untuk mendirikan koperasi sebagai media pemberdayaan ekonomi anggota-anggotanya. Seperti dijelaskan Ibu Zaitun, ketua JPS bahwa koperasi dapat mendorong anggota-anggotanya agar lebih aktif dalam mengembangkan usaha.

”Karena sampai saat ini anggota kelompok sudah menjalankan beberapa usaha kecil-kecilan seperti menjahit, membuat kue, menyulam kasap dan membuka kedai, dengan didirikannya koperasi diharapkan agar anggota lebih giat dan aktif dalam mengembangkan usaha-usaha kecil itu’’ jelasnya.

Hal yang sama disampaikan oleh Ibu Farida salah satu anggota kelompok JPS dari desa Seunebuk Trap, menurutnya koperasi itu penting sekali untuk pengembangan modal usaha kecil ”karena dengan adanya koperasi baik secara kelompok maupun secara pribadi usaha yang selama ini kita jalankan dapat semakin berkembang”

Mengenai bentuk koperasi yang direncanakan, anggota JPS sedang mencari bentuk. Seperti diketahui, Koperasi secara umum dapat dikelompokkan menjadi koperasi konsumen, koperasi produsen dan koperasi kredit (jasa keuangan).  Koperasi dapat pula dikelompokkan berdasarkan sektor usahanya seperti  Koperasi Simpan Pinjam, Koperasi Konsumen, Koperasi Produsen, Koperasi Pemasaran dan Koperasi Jasa (Jarwani/KK)

3 Comments (+add yours?)

  1. logos
    May 25, 2009 @ 06:45:04

    Logos adalah lembaga training pegawai dan pemberdayaan diri SEFT yang menggabungkan 14 macam terapi ( termasuk penyembuhan dan spiritual esq ) untuk meningkatkan kesehatan karyawan, motivasi kerja dan peak performance secara cepat, mudah & universal. Contoh: Berhenti merokok.

    Reply

  2. george
    Jun 19, 2009 @ 03:46:16

    ok very good

    Reply

  3. ijun
    Aug 30, 2010 @ 05:56:52

    salam kenal…
    saya salut dengan keberhasilan program pengorganisasian petani yg dilakukan sunspirit (meskipun saya tahu lewat gambar). yg diberihatu oleh teman saya jonh pluto sinulingga.

    selamat berjuang petani indonesia. go to hell wto !!!

    Reply

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: