KABAR ACEH

Cita-Cita Ke Taman Wisata

Picture2

Di sini banyak pemanjat liar yang mencoba mencuri strawberry, padahal kita baru mencoba mengembangkannya. Jangan lihat ada yang enak, mereka pasti mencurinya” Kata Tgk. Kamal, salah seorang santri yang rutin merawat kebun Strawberry di Pusat Pertanian Organik Terpadu Pasantren Babul Mukarammah Beutung Ateuh.

Dari 300 bibit strawberry percobaan yang dibudidayakan di atas lahan seluas 50 x 50 meter itu, semuanya berhasil tumbuh bagus. Perawatan dilakukan secara rutin setiap hari, mengingat selain hama monyet, yang disebut sebagai pemanjat liar, juga kadang hama lain seperti biawak “jadi kita mesti membuat pagar kawat yang agak tinggi” katanya lebih lanjut.

Tgk. Syariff, kepala pusat pelatihan dan pemberdayaan pertanian terpadu pasantren membenarkan hal itu. Selanjutnya ia mengatakan bahwa direncanakan perawatan secara lebih rutin dan akan memprioritaskan budi daya strawberry jika hasil strawberry yang sudah ada menunjukkan hasil yang baik “Sekarang kita sedang mencobanya, dan kita optimis pasti berhasil, karena selain faktor tanah yang menunjang juga karena kita melihat prospeknya bagus” katanya.

Ketika ditanya tentang prospek yang dimaksud, tgk. Syariff menjawab sambil tersenyum “Menjadikan Beutung Ateuh sebagai taman wisata strawberry. Beutung Ateuh ini sangat indah jika dilihat dari atas jalan raya, jadi kita akan menatanya secara baik mulai dari sini, dari rumah kita sendiri, jadi bukan hanya kebun strawberry, tetapi juga lingkungan sekitar kita, agar tetap alamiah dan indah. Ini adalah potensi Beutung Ateuh yang mesti kita kampanyekan kepada dunia luar”  (Kris Bheda/KK)

Aktifkan Pemuda Gampoeng Sendiri

Picture4Bapak Rairan, geuchik Cot Lagan adalah salah satu Geuchik yang paling getol menyuarakan agar para pemain, yakni para pmuda yang ikut pertandingan volly perdamaian antar gampoeng (kampung) di sepuluh desa se-kecamatan Bubon dan Woyla adalah pemuda dari gampoeng sendiri. Ada dua alasan yang disampaikannya, pertama, karena pertandiangan yang digelar bukan untuk memperebutkan juara, tetapi untuk membangun komunikasi dan persahabatan. Dan yang kedua adalah untuk mengoptimalkan pemuda dari desa sendiri. Agar pemuda dapat berperan dan mengambil bagian dalam membangun gampoeng-nya sendiri.

Bapak Rairan justru membuktikan pernyataannya. Dengan mengenakan kostum merah jingga bernomor punggung enam, dalam laga persahabatan melawan keenaman desa Gunung Panah, sang Geuchik justru tampil sebagai motor penggerak, pengatur strategi dan pengumpan.

Sang Geuchik adalah man of the match dalam laga persahabatan tersebut. Gerakannya yang lincah, umpannya yang akurat ditambah suara komando yang terus dipekikkan membuat suasana pertandingan sore hari itu tampak memesona. ”Kami tunggu akhir bulan Mei, karena laga persahatan selanjutnya akan berlangsung di Cot Lagan, semoga kita bisa lebih gembira dan meriah”

Satu contoh yang pantas ditiru, bukan hanya untuk seorang pemimpin tetapi juga untuk generasi muda. Peimimpin yang baik adalah pemimpin yang mau terlibat dalam kehidupan warganya. Dan ini harus dipelajari oleh generasi muda yang menjadi tulang punggung pembangunan gampoeng. (Kris Bheda/KK)

Ukuran Keberhasilan adalah Keseriusan

Picture3Ka Ti, demikian perempuan paruh baya itu biasa disapa.  Kesehariananya bertani tetapi setelah diberi pelatihan rotan kerjanya menjadi berganda. Walaupun bertani tetap menjadi prioritas, namun menurut istri Tgk. Jek ini menganyam rotan sangat membantunya “Sudah ada yang pesan, walaupun hanya di sekitar kampung saja” katanya suatu ketika. “Sudah tahu-tahu sedikit cara menganyam rotan, hanya sekarang tinggal menghaluskan saja atau diberi fernis” lanjutnya.

Seperti diketahui, Ka Ti adalah salah satu anggota kelompok perempuan yang aktif dalam mengembangkan usaha rotan di Pasantren Babul Mukarammah Beutung Ateuh Nagan Raya. Walau pun sampai sekarang belum menunjukkan hasil yang maksimal, tetapi usaha rotan di Beutung Ateuh cukup menjanjikan. “Rotan di sini banyak sekali, orang-orang sini menjual rotan ke Meulaboh atau Nagan Raya, tetapi belum ada orang di sini yang mengolahnya sendiri, semoga dengan pelatihan rotan yang sudah kami laksanakan dan hasil-hasil yang sudah kami buat dapat membantu kami berusaha”  kata Tgk. Syarif yang menjadi penanggung jawab kegiatan usaha rotan.

Sudah sejak tahun 2008 kelompok perempuan di Beutung Ateuh mendapat pembekalan tentang proses pengolahan rotan dari bahan mentah menjadi bahan jadi. Di tahun 2009 ini diharapkan kelompok perempuan yang aktif dalam kegiatan ini dapat menunjukkan hasilnya. “Berhasil atau tidaknya usaha rotan tergantung dari keseriusan anggotanya dan dorongan semua pihak secara terus menerus, jika mereka serius maka usahanya pasti akan jalan, karena di Beutung bahan mentahnya berlimpah” jelas Bpk. Aminullah, sang pelatih rotan. (Kris Bheda/KK)

KACANG INTIP MENGINTIP PASAR

Picture6Berbagai jenis produk hasil olahan Kelompok Jaringan Perempuan SAKINAH diakui kalah bersaing di pasaran. Pengakuan itu mengemuka pada pertemuan para ketua kelompok jaringan dari sepuluh desa se-kecamatan Bubon dan Woyla pada Rabu, 6 April 2009 di Pusat Pelatihan dan Pemberdayaan Jaringan Perempuan SAKINAH Glee Siblah, Woyla Aceh Barat.

Seperti diakui Ibu Zaitun, Ketua Umum Jaringan SAKINAH, bahwa alasan yang paling besar produk tidak diminati konsumen adalah karena kemasan yang tidak menarik dan belum dicantumkan legislasi uji kesehatan dari Dinas Kesehatan “Kemasan produk bisa kita atasi secara lebih mudah, karena hanya menyangkut ketertarikan konsumen pada barang. Sedangkan berkaitan dengan legislasi harus kita penuhi beberapa persyaratan. Dan itu sedang kita penuhi secara bertahap” katanya.

Beberapa persyaratan tersebut antara lain harus memiliki jenis produk yang berbeda, harus memiliki tempat yang layak (bersih dan sehat) untuk berusaha, harus memiliki struktur kepengurusan dan keanggotaan dan harus pula melengkapi administrasi lainnya. “Itu ada kacang intip, rasanya enak, renyah, kualitas bagus tetapi karena kemasan kurang bagus maka gak laku. Tapi gak apa-apa dikit-dikit intip-intip ke pasar, entar juga orang tau bagaimana rasanya” kata  Ibu Zaitun sambil melepas canda.

Variasi jenis produk, struktur keanggotaan dan kelayakan tempat usaha sudah sampai pada tahap akhir “Sekarang kami tinggal diberi pembekalan oleh Dinas, kami sudah mendaftar dan akan ada 10 peserta jaringan yang ikut” katanya Ibu Zaitun lebih lanjut.

Sebab seperti diketahui, dari antara empat belas produk yang dihasilkan oleh anggota kelompok Jaringan Perempuan Sakinah di sepuluh desa se-kecamatan Bubon dan Woyla kabupatem Aceh Barat, terdapat beberapa produk unggulan yang diminati konsumen karena proses peroduksinya tidak mengandung bahan kimia dan  berkhasiat untuk kesehatan tubuh. Salah satu di antaranya adalah Jahe Instant.

Terhitung sejak November 2008 sampai Febuari 2009, Jahe Instant sudah mulai dipasarkan, selain konsumen local sendiri produk ini sudah di pasarkan sampai keluar kota dan Jakarta. Jahe instan bebas dari bahan kimia karena tanpa mengunakan bahan pengawet dan sejenisnya. Cara mengkonsumsi jahe instant sangatlah mudah yaitu dengan cara diminum. Setengah sendok makan dicampurkan dengan satu gelas air hangat dan langsung dapat di minum. Untuk menambah rasa lebih sedap maka Jahe instant dapat di minum dengan kopi atau the.

Jahe instant adalah produk kelompok  Jaringan SAKINAH dari desa Kuala Pling kecamatan Bubon. “semoga lulus seleksi dan didaftarkan di Balai Pengawasan Produk Obat dan Makanan” kata salah satu anggota kelompok dari desa Kuala Pling.

(Jarwani/KK)

Selamat Memperingati

3 Tahun Perdamaian Aceh

(MoU Helsinki)

Kepada Pemerintah Republik Indonesia dan Pemerintah Aceh

Komite Peralihan Aceh (KPA)

Tentara Nasional Republik Indonesia dan Polisi Republik Indonesia

Kelompok Gerakan Masyarakat Sipil, Pegiat Perdamaian dan Hak Asasi Manusia

Para Survivors Konflik Aceh

Seluruh Rakyat Aceh

Kita syukuri apa yang telah dicapai

Kita lanjutkan apa yang telah dimulai

SUNSPIRIT for justice and peace

***

IKRAR PERDAMAIAN

(dideklarasikan bersama oleh peserta Malam Renungan Perdamaian

Dalam rangka peringatan 3 tahun MoU Helsinki, Meulaboh 14 Agustus 2008)

Kami/ masyarakat dan pemimpin Kabupaten Aceh Barat/ bersama dengan seluruh masyarakat Nanggroe Aceh Darussalam/ percaya bahwa sesungguhnya perdamaian itu/ adalah rahmat Allah Yang Maha Esa/

dan merupakan jalan menuju masa depan bangsa yang lebih baik.

Oleh sebab itu/ Kami berikrar untuk:

1. Menjaga perdamaian/ yang telah dicapai melalui MoU Helsinki 15 Agustus 2005/ dan meneruskan usaha untuk melakukan pembaharuan/ menuju Aceh yang sungguh-sungguh damai dan sejahtera.

2. Menolak segala bentuk penyelesaian masalah/dengan jalan kekerasan/, intimidasi, dan pemaksaan kehendak;/ serta mengusahakan dialog/ dan penyelesaian masalah tanpa kekerasan.

3. Menjauhkan sikap saling curiga/ dan dendam/ serta senantiasa menjaga persatuan dan kesatuan bangsa,/ berusaha membangun rasa saling percaya/ dan persaudaraan dengan sesama anak bangsa

4. Mewujudkan keadilan/ dan pemenuhan hak asasi manusia semua warga Negara/ serta mendukung proses demokrasi secara konsisten.

5. Melanjutkan proses perdamaian/ dengan segala upaya/ secara pribadi dan bersama-sama,/ melalui tugas dan tanggung jawab masing-masing/demi terciptanya kehidupan berbangsa dan bernegara/ yang sejahtera, adil dan makmur.

Semoga Allah Yang Maka Kuasa merestui ikrar kita ini.

Meulaboh,/ 14 Agustus 2008,/ pada malam peringatan tiga tahun Perdamaian Aceh.

MARI JAGA PERDAMAIAN ACEH

Situasi Aceh pasca penandatanganan MoU Helsinki 15 Agustus 2005 sungguh berbeda dengan sebelumnya. Sekarang ke mana pun kita pergi, selalu bisa kita temukan ungkapan-ungkapan yang intinya adalah Aceh Sudah Damai, ataujak…damee tajaga. Tapi benarkah Aceh bisa sungguh-sungguh damai hanya karena secarik kertas yang bernama MoU Helsinki?

Kita sering lupa bahwa perdamaian adalah suatu keadaan yang harus diperjuangkan dan kemudian dipelihara. MoU Helsinki hanya melahirkan benih perdamaian. Apakah benih itu akan tumbuh, berkembang dan berbuah atau mati tetap sebagai benih sungguh tergantung pada bagaimana kita merawat dan memeliharanya. Situasi dan kondisi keamanan di Aceh akhir-akhir ini membuktikan bahwa kelalaian dalam menjaga dan memelihara perdamaian dapat membuat perdamaian yang baru lahir ini hancur seketika.

Singkatnya bahwa perdamaian Aceh belum tuntas. Mewujudkan perdamian yang sesungguhnya untuk Aceh aeutuhnya membutuhkan waktu yang panjang. Lantaran itu suara-suara perdamaian terus dikumandangkan. Dalam ragam cara, bentuk dan gaya visi mewujudkan aceh damai dikumandangkan dengan tak henti-hentinya. Damee mandum, mungkin tepat untuk tidak sekedar himbauan belaka, tetapi merupakan sebuah visi bersama untuk semua demi Aceh ke depan.

Kita membaca dalam media cetak, mendengar lewat radio dan bahkan menonton di layar televisi seruan itu terus dikumandangkan dengan tak henti-hentinya dalam aneka cara, ragam dan bentuk.

Rangkaian kegiatan semisal pemberdayaan perempuan di level komunitas melalui pendidikan transformasi perempuan, penguatan kader perdamaian di gampong-gampong, pelatihan penguatan kapasitas aparat pemerintahan gampong, penerapan kurikulum pendidikan perdamaian dan keadilan di sekolah-sekolah, sampai pementasan seni damee sebetulnya merupakan cara dan ragam bagaimana menyuarakan perdamaian itu sendiri. Lantaran itu suara-suara perdamaian harus tetap lantang dikumandangankan. (Red/GG)

3 Comments (+add yours?)

  1. cipriano soares
    Oct 31, 2008 @ 06:18:36

    saya adalah seorang yang bekerja dibidang mencipata kedamain di tengah2 masyrakat yang berkonflik, namun saya belum tahu banyak tentang materi-materi transformasi konflik oleh karena itu saya minta kalo boleh beri saya bahan2 materi mengenai transformasi konflik

    salam damai

    Reply

  2. forjusticeandpeace
    Oct 31, 2008 @ 10:49:05

    Sdr Cipriano Soares yth.
    Salam kenal. Apakah Sdr bekerja di Timor Leste? Kami sedang mengembangkan materi workshop transformasi konflik dalam konteks Aceh. Untuk share info lebih lanjut, kita dapat berkomunikasi via emai forjusticeandpeace@gmail.com.
    Salam damai.

    Reply

  3. Simone
    Jun 03, 2010 @ 04:23:44

    saya adalah seorang yang bekerja dibidang mencipata kedamain di tengah2 masyrakat yang berkonflik, namun saya belum tahu banyak tentang materi-materi transformasi konflik oleh karena itu saya minta kalo boleh beri saya bahan2 materi mengenai transformasi konflik
    +1

    Reply

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: