PEACEBUILDING

Picture16

“Proses perdamaian Aceh telah menghasilkan demokratisasi yang luar biasa antara lain lewat pemilihan umum yang menampung aspirasi lokal secara luas. Pada saat yang sama, proses demoktrasi itu, terutama dalam Pemilu 2009, diharapkan dapat memperkuat perdamaian  yang telah kita mulai itu.”(SUNSPIRIT FOR JUSTICE AND PEACE)

“Kini semuanya tergantung kepada seluruh aktor politik—Pemerintah Indonesia, TNI, POLRI, Pemda Provinsi dan Kabupaten di Aceh, masyarakat sipil di Aceh dan Indonesia secara luas untuk mempromosikan perdamaian abadi, keadilan dan demokrasi di Aceh” Ikrar Nusa Bakti, dalam Beranda Perdamaian, Aceh Tiga Tahun Pasca MoU Helsinki (2008).


PEMILU DAN PERDAMAIAN

Proses perdamaian sejak tahun 2005 telah mentransformasi Aceh dari medan perang menjadi arena pertarungan politik paling dinamis sekaligus laboratorium demokratisasi yang melahirkan terobosan-terobosan inovatif dalam politik Indonesia.

Berkat kesepakatan damai itu, setiap kelompok  masyarakat kini dapat memperjuangkan aspirasi dan kepentingan mereka lewat jalur demokrasi dan tanpa jalan kekerasan. Demorkasi merupakan salah satu buah dari perdamaian, tetapi perdamaian juga dapat terus berkembang berkat proses demokrasi.

Di tahun 2009 ini kita menjalankan rangkaian proses pemilihan umum, dimulai dengan pemilu legislatif, kemudian disusul dengan pemilihan presiden dan wakil-presiden. Kita disuguhkan dengan macam-macam partai politik dengan agenda, karakter dan kepentingan yang beragam. Di Aceh selain 38 partai nasional, kita memiliki 6 partai lokal. Kita senang, karena ada banyak pilihan. Tetapi kita juga bingung dan cemas karena banyaknya partai memicu perbedaan dan gesekan yang dapat merusak perdamaian.

Perbedaan-perbedaan memang ada dan tetap ada. Perselisihan akan terus terjadi. Ada orang yang dengan sengaja menciptakan perselisihan, ada juga perselisihan yang terjadi begitu saja tanpa dikehendaki.

Yang paling utama yang harus dilakukan adalah jangan sampai perbedan itu memicu konflik dan kekerasan baru. Itu tidak boleh terjadi! Kita berharap Pemilu 2009 mendorong mendukung perdamaian berkelanjutan di Aceh. Sebab, Pemilu adalah satu mekanisme untuk membawa perselisihan dan sengketa dari arena kebiadaban perang menuju peradaban dialog, ruang musyawarah.  Bukan batu, kayu, parang atau peluru yang berbicara, tetapi manusialah yang berbicara satu sama lain.

Mari kita lanjutkan perdamaian. Mari kita sukseskan Pemilihan Umum. Cegah kekerasan, tingkatkan perdamaian.

MENGAPA SUNSPIRIT MENDUKUNG PROGRAM PEMILU DAMAI?

Sejak tahun 2005 lalu, SUNSPIRIT di Aceh berusaha bersama masyarakat, terutama di komunitas-komunitas yang pernah dilanda konflik untuk membangun kembali kehidupan mereka melalui program pemberdayaan masyarakt dan pembangunan perdamaian.

Sepanjang pemilihan umum 2009 ini, SUNSPIRIT menambah program pemilu damai yang terdiri dari dua program utama yaitu pertama mendukung partisipasi perempuan dalam politik dan dalam kegiatan perdamaian, dan kedua, mempromosikan pemilu damai dan demokratis, pemilu tanpa kekerasan sebagai jalan untuk membangun perdamaian berkelanjutan.

Baik program pemberdayaan masyarakat dan pembangunan perdamaian di komunitas maupun program pemilihan umum yang demokratis dan damai sama-sama bertujuan untuk menjaga keberlanjutan perdamaian di Aceh.

Berkat perdamaian, perselisihan dan konflik yang dulu kita selesaikan dengan jalan kekerasan dan perang kini kita selesaikan dengan jalan demokratis yaitu jalan dialog, jalan musyawarah. Dalam pemilihan umum, kita memilih wakil-wakil kita di DPRK, DPR Aceh, DPD dan DPR RI dan memilih presiden dan wakil presiden yang akan melanjutkan penyelesaian berbagai masalah kita bersama dengan jalan damai dan bermartabat. Mereka bertugas membuat hukum dan peraturan, menjalankan pemerintahan, dan menjamin kesejahteraan rakyat, kita semua.

Proses perdamaian Aceh telah menghasilkan demokrtatisasi antara lain lewat pemilihan umum yang menampung aspirasi lokal. Pada saat yang sama, proses demoktrasi itu, terutama dalam Pemilu 2009, diharapkan dapat memperkuat perdamaian  yang telah kita mulai itu.

Itulah sebabnya SUNSPIRIT mendukung program pemilu damai. Kita berharap bahwa berkat pemilu ini, semua kepentingan politik masyarakt dapat disalurkan dan dicarikan jalan keluarnya, sehingga terciptalah perdamaian berkelanjutan di negeri ini.

Aneka Kegiatan

PROGRAM PEMILU DAMAI

Sebagai bagian dari usaha untuk mengelola konflik dan membangun perdamaian berkelanjutan di Indonesia, SUNSPIRIT FOR JUSTICE AND PEACE turut serta dalam program Pemilu Damai. Tujuan utama dari program ini adalah mendorong dialog antara berbagai pihak dari kelompok politik yang berbeda, meningkatkan kesadaran bersama akan pentingnya menjaga kebersamaan dan mencegah kekerasan, serta menumbuhkembangkan komitmen untuk melanjutkan kerja-kerja menegakkan keadilan lewat cara-cara kreatif dan damai.

Berikut adalah sebagian dari pelaksanaan program itu, sampai bulan Maret 2009.Copy of Copy of DSC06470

  • Pertemuan Transformasi Konflik dan Focus Group Discussion (FGD). Perwakilan 33 partai politik yang ada di Aceh Barat, baik partai nasional maupun partai lokal, diundang untuk melakukan pertemuan untuk melakukan analisa situasi seputar Pemilu serta membangun visi bersama untuk Aceh Baru yang damai. Pertemuan diadakan dalam 3 putaran (11 partai diundang dalam setiap kegiatan) dengan dua focus analisis tantangan bagi keberlanjutan perdamaian Aceh dan mencari titik temu kebutuhan, kepentingan, dan sikap berbagai kelompok.
  • Picture2Seminar dan Dialog Publik bertema “Pemilu 2009, Transformasi Konflik, dan Keberlanjutan Perdamaian Aceh. Seminar ini diadakan pada tanggal 22 Maret 2009, dengan menghadirkan Prof. Ikrar Nusa Bhakti dari Pusat Penelitian Politik, Lembaga Ilmu Pengetahuan Indonesia (P2P-LIPI) sebagai narasumber utama. Berbagai komponen masyarakat, partai politik, dan pemerintahan hadir dalam acara selama 4 jam ini. Pada hari senin 23 Maret, Profesor Ikrar memberi kuliah umum di Fakultas Ilmu Politik, Universitas Teuku Umar.
  • Pimpinan Partai Politik dan para Caleg dari 33 partai politik, diundang untuk memaparkan visi dan komitmen mereka bagi keberlanjutan perdamaian Aceh. Acara ini disiarkan secara langsung melalui Radio DALKA 101,3 FM Meulaboh. Tiga orang Panelis, yakni Ibu Rosni Idham dari aktivis perdamaian, Bapak Teuku Ahmad Dadek dari pengamat sosial-politik, dan Bapak Sudarman dari kalangan akademisi, menggali visi dan komitmen peserta. Kita berharap dengan acara ini, masyarakat dapat memilih pemimpin yang memiliki visi dan komitmen perdamian yang jelas.
  • Workshop Peningkatan Kapasitas bagi Politisi Perempuan. Picture7Sebanyak dua kali, kami memfasilitasi Workshop Peningkatan Kapasitas (selama 3 hari per gelombang) bagi para caleg perempuan dari berbagai partai politik di Aceh Barat. Salah satu output dari workshop ini adalah inisiatif bersama dari politisi perempuan lintas partai untuk mengkampanyekan perdamaian di bawa moto “Suara Perempuan, Suara Perdamaian”. Kelompok ini kemudian melakukan pawai perdamaian pada tanggal 8 Maret 2009, bersamaan dengan Hari Perempuan Internasional. Acara ini mencapat perhatian cukup dari Media seperti Metro TV dan KBR 68H Jakarta
  • Seminar dan Dialog Radio tentangSuara Perempuan, Suara Perdamaian. Pada tanggal 28 Maret 2008, kami memfasilitasi sebuah seminar dan dialog radio tentang “Perempuan, Politik dan Perdamaian”. Ibu Suraiya KamaruzzaPicture6man, seorang aktivis Aceh terkemuka menjadi narasumber, bersama dengan Bapak T. Ahmad Dadek. 37 orang perempuan, sebagian besar di antaranya adalah calon anggota legislatif, hadir dalam kegiatan yang juga disiarkan secara langsung melalui radio DALKA FM ini.
  • Pendidikan Publik lewat kampanye kreatif: baliho, poster, stiker, acara radio. Picture5

Bagian penting dari kegiatan promosi perdamaian kami adalah aneka publikasi seperti poster, baliho, selebaran, stiker, dan iklan pendidikan di radio berisi pesan perdamaian. Penerbitan Buletin Komunitas ini juga merupakan salah satu bagian dari strategi publikasi itu. Kami juga mempublikasikan tulisan di media umum tentang Pemilu dan Perdamaian

  • Dodaidi Damai: suara damai bagi semua. Pada saat ini kami juga sedang mempersiapkan program dodaidi Picture9damai, yaitu rekonstruksi lagu-lagu ninabobo yang berisi pesan perdamaian dan rekonsiliasi. Para perempuan yang memiliki keahlian menyanyikan dan menciptakan dodaidi difasilitasi untuk menciptakan dodaidi damai. Hasil dari program ini disiarkan di radio dan dinyanyikan dalam acara-acara perdamaian. Syair-syair damai ini akan melengkapi seruan damai “Suara Perempuan, Suara Perdamaian”

Cypri Jehan Paju Dale:

Bangun Hubungan Baik untuk Masa Depan Perdamaian

Dari semua lagu Rafly-Kande, yang paling saya suka adalah lagu berjudul Damai. Dengan iringan dentuman rapai dan melodi serunai kale, lengkingan suara Rafly membawa pesan damai.

”Jangan lagi berperang, indah berbaikan,

…, tetap butuh saudaraku.

Simak pula refrainnya pun mengena di hati

”Obat Hati zikir Allah, obat susah Silaturahmi

Aman…aman…damai…damai”

Berkata seperti perbuatan, berbuat seperti perkataan.

Yang ada jangan ditiadakan, yang tiada jangan diada-adakan

Aman…aman….Damai… damai….

Situasi Pemilu

Bertolak belakang dengan pesan damai itu, dalam situasi Pemilu ini kitasemua khawatir dengan ternggangunya silaturahim antara berbagai pihak. Ada sekurang-kurangnya empat masalah yang mengancam perdamaian.

Pertama, tingkat rasa saling percaya antara berbagai pemangku kepentingan dan komponen perdamaian di Aceh terus melorot ke titik yang paling rendah, sementara rasa permusuhan dan kecurigaan bergerak cepat menuju puncak.

Kedua, forum politik dan keamanan yang ada (baik di tingkat nasional, provinsi maupun kabupaten) tampaknya terlalu lemah dan tidak mampu menjadi tempat dialog antara pihak militer dan kelompok mantan Gerakan Aceh Merdeka, antara elite politik Aceh dan berbagai spektrum elite politik Jakarta, dan antara berbagai komponen masyarakat Aceh sendiri.

Ketiga, kekerasan dapat sesewaktu meledak; terutama ketika pihak TNI dan mantan gerakan Aceh Merdeka (atau oknum-oknum di dalamnya) tidak tunduk kepada supremasi hukum dan/atau terpancing untuk berkonfrontasi secara langsung. Potensi kekerasan lain bisa muncul dari kelompok-kelompok yang oleh sebagian orang disebut milisi dan dari faksi-faksi internal GAM yang kecewa terhadap perkembangan organisasi dan perjuangan mereka.

Keempat, masih ada perbedaan pandangan antara Aceh dan Jakarta (dan antara berbagai elemen di kedua pihak) tentang platform penyelesaian komprehensif masalah Aceh. Titik tengkar utamanya adalah penafsiran atas ”pemerintahan sendiri” (self-government) yang telah disepakati secara prinsip dalam MoU Helsinki, namun tidak secara memadai diatur dalam Undang-Undang Pemerintahan Aceh. Kubu mantan GAM berjuang untuk memenangkan pemilu (menguasai parlemen lokal) sebagai jalan untuk implmentasi pemerintahan sendiri sesuai tafsiran mereka. Sebaliknya elite politik Jakarta mencurigai Partai Aceh akan melanjutkan perjuangan kemerdekaan lewat jalur politik melalui parlemen lokal dengan dalih penentuan nasib sendiri.

Tidak mengherankan jika Sidney Jones dari ICG mengingatkan bahwa  ”terlalu bahaya jika kita cepat-cepat menyimpulkan bahwa perdamaian Aceh telah sukses”; sebab sesungguhnya Aceh saat ini “bagai telur di ujung tanduk” (Inside Indonesia, Maret 2009).

Hubungan Baik itu penting

Evaluasi realistis seperti itu menyadarkan kita bahwa konflik Aceh masih membutuhkan penanganan ekstra serius dan bahwa kualitas relasi antara stakeholders perdamaian harus diperbaiki dengan segera dan sungguh-sungguh.

Tema kualitas relasi antara stakeholders ini menjadi masalah penting dalam  membangun perdamaian.  Peacebuilding, terutama sejak John Paul Lederach  mengembangkan kerangka kerja Transformasi Konflik  Sementara transformasi konflik, selain memberi perhatian pada penyelesaian sengketa, juga berfokus pada relasi-relasi yang merepresentasikan jejaring hubungan yang membentuk konteks konflik yang lebih luas.

Lederach  menegaskan bahwa sesungguhnya perdamaian itu berpusat dan berakar pada kualitas relasi yang mencakup baik inteaksi secara langsung maupun cara-cara kita menata struktur hubungan-hubungan sosial, politik, ekonomi, dan budaya yang ada (The Little Book of Conflict Transformation, 2003).

Perpektif transfomasi ini mengajak kita untuk melihat perdamaian bukan sebagai sebuah “keadaan-akhir” yang statis, melainkan sebagai sebuah kualitas relasi yang senantiasa bertumbuh dan berkembang. Karena itu, kerja perdamaian adalah ikhtiar untuk menangani munculnya konflik-konflik dengan menjalin dialog tanpa kekerasan demi menyelesaikan persoalan yang ada dan meningkatkan saling-pengertian, kesetaraan dan respek dalam relasi-relasi damai.

Jika ditangani dengan dialog tanpa kekerasan, konflik dapat mengantar kita masuk ke dalam proses perubahan mendasar yang konstruktif (substantive constructive changes) baik pada level relasional maupun struktural. Dengan kata lain, lewat dialog struktur-struktur yang menata kehidupan kita dapat dimodifikasi menjadi lebih responsif dan adil.

Tingkatkan Silahturahmi

Perdamaian hanya dapat dicapai lewat permusyawaratan dan perwujudan keadilan, sebuah dialog, sebuah silahturahmi untuk membangun kebersamaan dan kesepakatan;  sedangkan pendekatan kekerasan hanya akan memerangkap kita dalam lingkaran setan kekerasan.

Doa Rafly-Kande dalam lagu Damai, semoga menjadi doa kita semua

Kasih dan sayang, rahmat berlimpah

Beri Ya Allah buat kami semua

Berjabatan tangan sangatlah indah

Itu ajaran rasul mulia

Ampuni dosa Allah Tuhanku

Terangi hati kami semua

Hasat (fintah), khianat, ria (kesombongan), takabur

Jangan sertakan di jiwa hamba

Obat Hati Zikir Allah, Obat Susah Silahturahmi

Aman….aman …. Damai…damai

Cypri Jehan Paju Dale

*Catatan: sebagian dari isi tulisan ini pernah dimuat dalam Kompas, 17 Maret 2009


Prof. Ikrar Nusa Bhakti Ph.D:

Pemilu 2009 Penting untuk Keberlanjutan Perdamaian Aceh

“Jika transformasi politik di Aceh berlangsung secara damai, harapan  untuk membangun Aceh Baru yang damai, adil dan sejahtera dalaPicture1m bingkai Negara Republik Indonesia akan terwujud”.

Demikian pernyataan Prof. Ikrar Nusa Bakti Ph.D di Meulaboh pada tanggal 22-23 Maret lalu. Profesor Riset Bidang Intermestic Affairs Pusat Penelitian Politik, Lembaga Ilmu Pengetahuan Indonesia (P2P-LIPI) itu berada di Meulaboh dalam program Pemilu Damai dan Demokratis yang dijalankan oleh LSM SUNSPIRIT FOR JUSTICE AND PEACE.

Profesor Ikrar menjadi narasumber dalam diskusi dan dialog radio di Sanggar Tambora DALKA FM yang dihadiri puluhan aktivis masyarakat sipil, para calon anggota legislatif, serta undangan dari unsur pemerintahan. Beliau juga memberikan kuliah umum di hadapan civitas academia FISIP Universitas Teuku Umar.

Di bawah tema ‘Pemilu 2009, Tranformasi Konflik dan Keberlanjutan Perdamaian Aceh’ Ikrar menyinggung berbagai aksi kekerasan, intimidasi, penculikan dan penembakan yang selama ini terjadi di Aceh yang telah membuka ruang curiga dan prasangka. “Solusi kuncinya ada di pihak kepolisian. POLRI harus mengusut tuntas semua kasus sampai pada menemukan pelakunya; karena jika kepolisian tidak sampai pada tahap itu, maka bukan tidak mungkin konflik akan membesar kembali. Semoga saja hal itu tidak terjadi.”

Lebih lanjut guru besar yang pernah mengajar di Sesko TNI, Sesko AD, Sesko AL, Semimpol POLRI,dan Pusdik Intelijen POLRI itu berpesan agar TNI di Aceh benar-benar berbenah diri . “Pihak TNI diharapkan bersikap profesional dan tidak lagi terlibat dalam urusan sipil”.

Kepada elite politik Aceh Ikrar berpesan agar berpolitik demi perdamaian, bukan demi kekuasaan. “Kita berharap bahwa partai politik, baik nasional maupun lokal, berpolitik secara dewasa dan mencegah kekerasan serta intimidasi. Toleransi, dialog dan kerjasama merupakan prinsip kunci dalam demokrasi. ”

Penyunting buku “Beranda Perdamaian: Aceh 3 tahun Pasca MoU Helsinki” itu juga menegaskan pentingnya peran kelompok-kelompok masyarakat sipil (CSO) dalam membangun perdamaian jangka panjang di Aceh. “Masyarakat sipil perlu terus-menerus memonitor dan memberikan peringatan dini jika terjadi gangguan perdamaian. Selain itu masyarakat sipil perlu melakukan advokasi baik kepada masyarakat maupun kepada pihak-pihak yang berkonflik agar “kata, dan bukan senjata” lebih diutamakan dalam penyelesaian konflik”.*

BERSAMA BANGUN ACEH DAMAI

Picture12Perdamaian di Aceh dianggap oleh banyak pengamat Internasional dan nasional sebagai tidak saja ujian bagi usaha internasional untuk menciptakan perdamaian di sebuah wilayah yang telah diguncang bencana, tetapi juga indikator kinerja Indonesia dalam melakukan transisi menuju demokrasi”

“Kini semuanya tergantung kepada seluruh aktor politik—Pemerintah Indonesia, TNI, POLRI, Pemda Provinsi dan Kabupaten di Aceh, masyarakat sipil di Aceh dan Indonesia secara luas untuk mempromosikan perdamaian abadi, keadilan dan demokrasi di Aceh” demikian rekomendasi Ikrar Nusa Bakti, Kepala Pusat Penelitian Politik Lembaga Ilmu Pengetahuan Indoensia (P2P-LIPI) dalam Beranda Perdamaian, Aceh Tiga Tahun Pasca MoU Helsinki (2008).

Rekomendasi ini penting untuk digarisbawahi menimbang membangun perdamaian yang berkelanjutan di Aceh adalah proses yang tidak mudah. Masih menganganya ruang curiga dan prasangka, dendam dan intimidasi masih memendam di dasar dada membuat tikar duet pakat (musyawarah) rentan dicabik aksi konflik dan kekerasan.

Tahun 2009 telah tiba. Inilah tahun perubahan yang sesungguhnya bagi Aceh. Pesta demokrasi yang mewarnai rentang tahun ini membuat kita seharusnya untuk lebih memperkokoh tali silahturahmi, menjaga persaudaraan dan membangun perdamaian yang berkelanjutan.

Kita seharunya lebih mengeratkan semangat, visi dan misi membangun Indonesia yang sejahtera. Kita harus sanggup dan dengan jiwa besar untuk membantu dan menuntun yang berkekurangan., bukan hanya secara material tetapi lebih secara moril. Demikian juga sebaliknya ketidakmampuan dan kekuarangan kita harus pula diisi dengan kelebihan orang lain. Kita harus dehngan jiwa besar pula menerima tawaran dan kebaikan sesama.

Partai politik nasional dan local, masyarakat tua dan muda, berbagai elemen masyarakat dan pembuatan kebijakan hendaknya berjalan bersama-sama membangun bangsa dan Aceh khususnya yang lebih baik.

Sudah banyak air mata tertumpah, sudah banyak darah bersimbah, ribuan syuhada tertimbun di bawah pasir basah Tsunami 5 tahun silam. Kita seharusnya sadar, beudoh (bangkit) untuk menjawab pertnyaan ‘apa yang dapat kita wariskan kepada generasi masa depan? Konflik? Ataukah Perdamaian?

Tidak ada jawaban yang tuntas untuk membangun Aceh yang lebih baik ke depan selaian PERDAMAIAN. Ini tugas kita semua: Pemerintah Indonesia, TNI, POLRI, Pemda Provinsi dan Kabupaten di Aceh, masyarakat sipil di Aceh dan Indonesia. (Kris Bheda)


DI MANA ADA KEADILAN…

Dalam sebuah diskusi terbatas yang dihadiri oleh beberapa pimpinan Partai Politik Peserta Pemilu 2009 di Aceh Barat, sebagai bagian dari Program Peningkatan Kapasitas dan Pemberdayaan Politik untuk Perdamaian, muncul satu kata sepakat bahwa salah satu tantangan keberlanjutan perdamaian di Aceh pasca-Pemilu 2009 adalah bagaimana menegakkan keadilan.

Sejarah konflik Aceh cukup menjadi pelajaran bahwa ketidakadilan merupakan ancaman serius bagi perdamaian. Tanpa keadilan sangat sulit membayangan perdamaian. Maka kepada kita dikatakan bahwa yang inginkan perdamaian, wujudkan keadilan. Berjuang sungguh-sungguh untuk mewujudkan keadilan merupakan salah satu cara ampuh mewujudkan perdamaian. Di mana ada keadilan, di sana ada perdamaian. Keadilan dan perdamaian ibarat dua sisi dari satu mata uang yang tidak bisa dipisahkan. Siapa pun yang menghendaki perdamaian dengan demikian dituntut untuk mewujudkan keadilan.

Dalam konteks Pemilu 2009 dan keberlanjutan perdamaian, masyarakat Aceh hari-hari ini dihadapkan pada satu tanggung jawab besar untuk memastikan bahwa pilihan mereka pada dalam pemilu tahun 2009 merupakan pilihan yang akan membawa mereka samakin dekat pada cita-cita keadilan – dengan demikian semakin lapang pula jalan damai yang sudah dibangun ini – dan bukan sebaliknya.

Satu hal yang mau dikatakan di sini adalah bahwa pilihan rakyat Aceh terhadap partai dan wakilnya merupakan satu langkah awal yang sangat menentukan masa depan Aceh. Bila langkah awal ini keliru, bisa jadi rakyat Aceh akan semakin jauh dari cita-cita keadilan, dengan demikian semakin jauh pula dari perdamaian.

Selama masa kampanye berlangsung, rakyat Aceh telah dibuat “kembung” oleh janji-janji manis para calon wakilnya.

Yang justru luput dari janji-janji para calon wakil rakyat itu adalah apakah mereka sanggup menghadirkan rasa aman bagi masyarakat yang diwakilinya. Kebutuhan akan rasa aman merupakan kebutuhan yang paling penting bagi masyarakat Aceh saat ini, jauh melampaui kebutuhan akan pendidikan, kesehatan, jalan gampong, ataupun masjid.

Semua hal yang dijanjikan itu tidak ada artinya bila masyarakat yang diwakili masih merasa tidak aman. Tidak aman untuk sekolah, tidak aman untuk pergi berobat, tidak aman untuk bepergian ke kebun dan  tidak aman untuk berdoa. Singkat kata masyarakat Aceh butuh situasi yang aman, tentram lahir dan bathin. (Leo Depa Dey)

APA YANG PERLU DILAKUKAN DAN YANG TIDAK BOLEH DILAKUKAN DEMI PEMILU YANG DAMAI DAN DEMOKRATIS?

10 HAL YANG PERLU DILAKUKAN PADA SAAT PEMILU

1. Gunakan hak pilih Anda, kalau memang sudah memenuhi syarat dan sudah terdaftar. Sebagai warga negara, Anda berhak memilih pemimpin Anda.

2. Simaklah kampanye, program, visi-misi dari para Caleg atau Capres. Bandingkan caleg/capres satu dengan yang lainnya, lalu pilih yang menurut Anda paling sesuai dengan kebutuhan dan aspirasimu.

3. Pilihlah sesuai dengan kehendak hatimu sendiri. Tidak perlu terpengaruh oleh pendapat atau pandangan orang lain.

4. Jagalah martabat Anda sebagai warga negara yang baik. Uang atau barang tidak bernilai dibandingkan dengan martabat Anda sebagai warga negara.

5. Dukunglah calon pemimpin yang menghargai orang lain dan melakukan kampanye dengan jujur dan santun.

6. Kalau Anda memilih untuk menjadi kader partai tertentu, jadilah kader yang menaati aturan hukum dan jalankan mandat Anda untuk mendukung pemilu yang damai dan demokratis.

7. Katakan tidak pada kekerasan dan intimidasi

8. Melaporlah kepada pihak yang berwewenang (seperti Panitia Pengawas Pemilihan Umum, pihak kepolisian atau institusi pemerintah terdekat) kalau Anda melihat atau mengalami sendiri tindakan kekerasan atau pelanggaran terhadap aturan pemilihan umum.

9. Tetaplah menjaga komunikasi dan silahturahmi dengan kelompok politik yang berbeda. Ingatlah bahwa perbedaan membuat hidup lebih bermakna dan kaya. Biar berbeda, tetap satu dalam negara demokratis dan damai.

10. Kalau kelompok Anda menang, syukurilah dan hormatilah pihak yang kalah. Kalau Anda kalah, berikan apresiasi positif. Sebab menang belum tentu mulia, kalah belum tentu hina. Yang penting bersaing secara sehat.

10 HAL YANG TIDAK BOLEH DILAKUKAN PADA SAAT PEMILU

1. Sebaiknya jangan golput (tidak memilih), kecuali kalau Anda memiliki alasan dan prinsip yang jelas.

2. Jangan ”pilih kucing dalam karung”. Kenalilah pribadi, pandangan, sikap dan program dari Calon Pilihan Anda.

3. Jangan ikut-ikutan, atau mengikuti paksaan orang lain. Anda berhak memiliki pilihan sesuai hati Anda sendiri.

4. Jangan terima suap dalam bentuk apa pun. Kalau politisi membayar suara Anda dengan uang atau barang, nanti setelah terpilih, pemimpin yang anda pilih itu akan mengganti uang itu dari hak rakyat.

5. Jangan pilih caleg atau capres yang menyebarkan fitnah, berita bohong, atau provokasi yang merugikan kepentingan bersama.

6. Jika Anda menjadi kader partai, berhati-hatilah, jangan sampai Anda diperalat atau dimanfaatkan untuk kepentingan individu atau kelompok tertentu yang merusak kepentingan masyarakat umum dan bangsa dan negara.

7. Jangan biarkan diri Anda diperalat atau diprovokasi untuk melakukan kekerasan dalam bentuk apa pun.

8. Jangan diam saja kalau anda mengalami perlakuan tidak adil atau ketika Anda melihat ada pelanggaran terhadap pemilu yang damai dan demokratis.

9. Jangan biarkan perbedaan pilihan politik mengganggu hubungan baik dengan orang lain. Jangan melihat orang dari kelompok politik berbeda sebagai kawan.

10. Jangan jadikan kemenangan untuk menghina orang lain, atau kekalahan untuk memusuhi orang lain. Menang atau kalah, serahkan semuanya pada proses demokrasi.

Pemilih Pemula:

ANDAI AKU JADI PEMIMPIN

Picture11Suatu kesempatan dalam kegiatan Pendidikan Perdamaian di SMUN  I Meulaboh team Komunitas Kita (KK) menyambangi beberapa pelajar yang sedang berdiskusi di salah satu ruangan kelas. KK ingin mengetahui komentar mereka tentang sosok atau gambaran pemimpin yang ideal. Pemimpin, tokoh publik Aceh yang Ideal.

‘Pemimpin yang ideal adalah pemimpin yang adil dan bijaksana’ jelas Abai, salah seorang pelajar. Hal yang sama disampaikan Arma Yuliza, bahwa pemimpin yang Ideal adalah pemimpin yang merakyat ‘Yang mampu membawa aspirasi masyarakat, menciptakan harmonisasi dan mau terlibat dalam kepentingan dan kebutuhan masyarakat banyak’

Mengapa harus pemimpin yang terlibat, berpihak, merakyat, yang mampu mendukung dan menjaga perdamaian?

‘Aceh ke depan butuh pemimpin yang demikian’ tambah Arma. ‘membangun perdamaian berkelanjutan di Aceh butuh proses dan waktu yang waktu yang panjang. Jadi, pemimpin yang baik adalah pemimpin yang mampu mendukung proses perdamaian, dan menjadi perdamaian sebagai agenda penting pembangunan Aceh’ jelasnya lebih lanjut.

Pendapat-pendapat di atas adalah sebagian kecil dari sekian banyak harapan kaum muda Aceh saat ini. Kaum muda generasi 90-an adalah generasi peralihan, dimana ketika konflik itu berakhir dan perdamaian itu baru segera dimulai.

Tidak ada harapan lebih dari mereka selain membutuhkan rasa nyaman dan aman, situasi yang kondusif dan damai “agar kami bisa bersekolah tepat waktu” kata Abai, ketika ditanyakan perihal kongretnya perdamaian yang di inginkannya.

“Agar kami belajar dengan tenang dan dapat menjadi anak yang cerdas” tambah Arma menegaskan.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: