SUARA PEREMPUAN

Picture14

Perempuan di Aceh seringkali dipandang semata-mata sebagai korban, baik korban konflik/perang, maupun korban dari kultur dan struktur sosial, ekonomi, politik, dan budaya yang meminggirkan perempuan.

Namun, potret perempuan Aceh sebagai korban hanyalah satu sisi kebenaran. Yang seringkali luput dari perhatian adalah bahwa selama konflik perempuan juga berjuang dan memainkan peran strategis untuk mempertahankan diri, keluarga dan komunitas mereka. Pun pada masa perdamaian, para perempuan Aceh, baik pada level komunitas maupun level sosial-politik aktif berjuang memberdayakan diri mereka serta berkontribusi bagi pembangunan perdamaian.

Sayangnya, peran strategis perempuan ini seringkali tidak dihargai dan diabaikan. Bahkan dalam proses perumusan konsensus politik penyelesaian konflik Aceh yang akhirnya berbuah Kesepakatan Damai di Helsinki, perempuan tidak dilibatkan secara aktif. Kendati kesepakatan itu sukses, perspektif dan agenda perempuan Aceh tidak mendapat tempat yang signifikan, termasuk pasca-kesepakatan-perdamaian pun peran perempuan Aceh tidak menonjol.

Singkat kata, baik pada masa konflik maupun sekarang dalam masa pembangunan perdamaian, perempuan Aceh masih mengalami peminggiran secara kultural dan struktural.

Peluang dalam Pemilu

Picture15Pemilihan umum tahun 2009 tidak hanya penting bagi keberlanjutan proses perdamaian di Aceh, melainkan juga bagi pemberdayaan diri sosial-politik bagi perempuan. Didukung oleh dinamika perempuan Aceh di level akar rumput dan level sosial-politik, maka Pemilu 2009 dapat menjadi kesempatan bagi perempuan untuk memainkan peran publik yang lebih luas sebagai wakil rakyat, dan dengan itu berkontribusi bagi penegakkan keadilan sosial dan bagi pembangunan perdamaian berkelanjutan.

Keterlibatan pemimpin perempuan dalam dinamika politik di Aceh juga memiliki arti penting di tengan menguatnya polarisasi antara berbagai kelompok politik dan tingginya potensi kekerasan yang mengancam kesuksesan pemilu dan keberlanjutan perdamaian. Anggota masyarakat pun terkotak-kotak dalam faksi politik, yang mengikuti garis perpecahan pada masa konflik.

Teror dan intimidasi, yang sebagian menimpa masyarakat sipil dan aktivis perdamaian, makin sering terjadi pada beberapa bulan terakhir.

Dari sudut pandang peacebuilding, kita akan menghadapi tantangan ganda: (1) bagaimana memastikan pelaksanaan Pemilu yang sungguh-sungguh demokratis demi trasformasi menuju perdamaian berkelanjutan, dan pada saat yang sama (2) mencegah terjadinya kekerasan dan tindakan destruktif lain yang dapat membawa Aceh kembali ke kondisi konflik. Selain itu, amat penting untuk memastikan bahwa para pemimpin Aceh yang terpilih dalam Pemilu sungguh-sungguh menjadikan rekonstruksi, rekonsiliasi dan penegakan hak asasi manusia, serta resolusi konflik sebagai agenda politik mereka.

Peran Strategis Perempuan

Konteks sosial politik seperti ini membawa kita kepada tiga hal penting terkait dengan peran perempuan dalam politik dan perdamaian.

Pertama, diperlukan usaha-usaha khusus untuk memperkuat kepemimpinan politik perempuan (peningkatan kapasitas) agar dapat berpartisipasi dalam dinamika politik, dan tidak terus-menerus terpinggirkan.

Kedua, perempuan dapat memainkan peran kunci bagi dinamika politik tanpa kekerasan (termasuk dalam proses Pemilu) dan bagi politik perdamaian (politik yang menjadikan perdamaian dan keadilan sebagai agenda utama).

Ketiga, para pemimpin perempuan perlu membentuk jaringan untuk memperkuat diri mereka sendiri dan menyatukan suara mereka agar dapat didengarkan publik dan elite politik.

Picture13

“SUARA PEREMPUAN UNTUK PERDAMAIAN”

Seruan Politisi Perempuan di Aceh Barat Dalam Acara Pawai Perdamaian Perempuan

Lintas Partai Politik dan Hari Perempuan Internasional 8 Maret 2009

SUARA PEREMPUAN, SUARA PERDAMAIAN adalah sebuah inisiatif para aktivis politik perempuan/calon angota legislatif di Aceh Barat dari berbagai partai politik untuk bersama-sama mendorong partisipasi perempuan dalam politik dan mendukung pelaksanaan pemilu yang damai dan demokratis.

Awal mula SUARA PEREMPUAN, SUARA PERDAMAIAN adalah kesepakatan para peserta workshop PEningkatan Kapasitas Politik Perempuan yang difasilitasi oleh LSM SUNSPIRIT FOR JUSTICE AND PEACE pada bulan Desember 208 dan Januari 2009.

Demi mendukung keberlanjutan perdamaian dan mendorong pemilu yang sungguh-sungguh damai, para perempuan yang bergabung dalam SUARA PEREMPUAN, SUARA PERDAMAIAN ini melakukan berbagai kegiatan bersama seperti pawai damai perempuan, dialog radio, dan pertemuan silahturahmi perempuan lintas partai.

Kami para pemimpin politik perempuan yang bersatu di dalam kegiatan perdamaian dengan nama SUARA PEREMPUAN SUARA PERDAMAIAN menyatakan hal-hal sebagai berikut:

  1. Kami berkomitmen       untuk menjalankan        politik yang demokra   tis, menolak kekerasan dan intimidasi, menjaga kebersamaan dan dialog  demi mewujudkan perdamaian
  2. Kami berkomitmen untuk secara           aktif terlibat dalam politik, demi agenda-agenda pemberdayaan perempuan dan masyarakat umum, terutama keadilan dan kesejahteraan bagi rakyat yang paling membutuhkan.
  3. Kami sepakat untuk bersaing merebut dukungan pemilih secara secara sehat dan bermartabat, sambil tetap menjaga kebersamaan dan silaturami satu sama lain.

Dalam semangat perdamaian itu, kami juga mengajak seluruh pemimpin dan masyarakat Aceh—perempuan dan laki-laki, tua dan muda, dari kelompok politik mana pun—untuk hal-hal sebagai berikut:

  1. Meningkatkan ketakwaan kepada Allah SWT dan mendoakan kesuksesan Pemilihan Umum sebagai salah satu tahap penting menuju perdamaian abadi dan demokratisasi di Indonesia.
  2. Menggunakan hak pilih secara baik dan benar sesuai dengan hati nurani, tanpa terpengaruh oleh politik uang, pemaksaan, intimidasi ataupun kampanye berbau fitnah (black campaign)
  3. Menjaga keberlanjutan perdamaian di Aceh selama proses Pemilu berlangsung, menghindari segala bentuk provokasi, mencegah terjadinya kekerasan.
  4. Mempererat persatuan dan kesatuan bangsa dan negara Republik Indonesia, mengelola perbedaan dengan arif, meningkatkan dialog dan silahturahmi, serta bersama-sama mendukung Pemilu yang damai dan demokratis.
  5. Bersaing secara sehat dan bermartabat, serta mematuhi perundang-undangan yang berlaku.

Akhirnya, jika kami dinilai oleh masyarakat memiliki kapasitas dan komitmen untuk membawa perubahan dan menjaga perdamaian, maka kami mengajak seluruh masyarakat untuk memberikan kesempatan bagi para perempuan, sesuai dengan amanat Undang-undang, untuk memimpin di badan legislatif.

Meulaboh, 8 Maret 2009, Pada Hari Perempuan Internasional

Picture4

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: